Sabtu, 18 Oktober 2008

tenaga persalinan

Salam sahabat
Pemilihan tenaga penolong persalinan di Borong Sinjai
http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/05/pemilihan-tenaga-penolong-persalinan-di-borong-sinjai/
Posted on May 5, 2007. Filed under: artikel ilmiah
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN OLEH IBU BERSALIN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BORONG KOMPLEKS KAB. SINJAITAHUN 2006
A. Rasdiyanah Jakir; Dr. Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes
Jalan Sultan Alauddin II Lr. 1 No. 340411-5287421
BAGIAN EPIDEMIOLOGIFAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATUNIVERSITAS HASANUDDIN ABSTRAK
Masalah kematian ibu masih merupakan masalah pokok yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dimana AKI di Indonesia tahun 2005 yaitu 290,8 per seratus ribu kelahiran hidup. Persentase kelahiran di Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2004 oleh tenaga medis adalah 57,51 % dan sisanya 42,5 % ditangani oleh tenaga non medis. Sementara di Kabupaten Sinjai, pada tahun 2005 persentase penolong persalinan pertama dan terakhir oleh nakes sebesar 42.93 % dan 52.08 %. Di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks, dari 366 kelahiran pada tahun 2005, 47.81 % persalinan ditangani oleh bidan dan 52.19 % persalinan ditangani oleh dukun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks tahun 2006. Metode penelitian adalah Cross Sectional Study. Populasi adalah ibu-ibu yang melahirkan tahun 2006, anaknya lahir hidup atau mati, namanya tercatat dalam data sasaran ibu bersalin, dan bertempat tinggal di Kecamatan Sinjai Borong yang berjumlah 220 orang. Sampel penelitian diambil dengan metode proportional stratified random sampling berjumlah 140 orang. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 12 sedangkan analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 65 % dari 140 responden memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dan 35 % lainnya memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status keluarga, dan kebiasaan keluarga dengan pemilihan tenaga penolong persalinan dengan nilai p masing-masing 0.000, 0.000, 0.001, dan 0.000. Sementara keterjangkauan terhadap sarana pelayanan kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan pemilihan tenaga penolong persalinan. Kerjasama lintas sektoral sangat diharapkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, pemanfaatan tenaga kesehatan di desa secara optimal dalam upaya komunikasi/penyuluhan kepada masyarakat. Kata kunci : Penolong Persalinan; Persalinan; Ibu Bersalin
PENDAHULUAN
Latar Belakang Analisis terhadap penolong persalinan penting karena salah satu indikator proses yang penting dalam program safemotherhood adalah memperhatikan seberapa banyak persalinan yang dapat ditangani, khususnya oleh tenaga kesehatan. Indikator ini masih menjadi indikator porsi kematian ibu (AKI) yang penting dan baik serta selalu diperhatikan dalam beberapa bahasan. Semakin tinggi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan semakin rendah risiko terjadinya kematian (Agus Suprapto, 26 September 2006). AKI Indonesia pada tahun 2002/2003 adalah sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Angka tersebut telah mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi 290,8 per seratus ribu kelahiran hidup (Depkes, 2005).Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup melalui pelaksanaan MPS (Making Pregnancy Safer) dengan salah satu pesan kunci yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (Depkes, 18 Februari 2007).Persentase kelahiran pada tahun 2003 yang ditangani oleh tenaga medis terdapat sekitar 56,95 % dan pada tahun 2004 naik menjadi sekitar 57,51 % (Susenas 2003 & 2004). Sementara persentase penolong persalinan oleh tenaga non medis masih cukup tinggi yaitu 43,05 % pada tahun 2003 dan 42,5 % pada tahun 2004, sehingga perlu pemantauan pengetahuan akan pentingnya kesehatan bagi dukun (Indikator Kesra Sulsel, BPS 2004). Penolong persalinan terakhir di Sulawesi Selatan oleh dokter sebanyak 8,61 %, bidan 47,57 %, tenaga paramedis lainnya 1,33 %, dukun 37,92 %, keluarga 4,07 %, dan lainnya 0,51 % (Susenas 2004). Berdasarkan data statistik kesra hasil survei serial ekonomi nasional, mayoritas penolong persalinan terakhir Kota Makassar pada tahun 2004 adalah bidan 50,43 %, dokter 24,67 %, dukun 17,22 %, keluarga dan lainnya 7,68% (Susenas 2004).Persentase penolong persalinan pertama dan terakhir di Propinsi Sulawesi Selatan oleh tenaga kesehatan tahun 2005, khususnya di Kabupaten Sinjai yaitu persentase penolong persalinan pertama oleh nakes sebesar 42.93%, sementara persentase penolong persalinan terakhir oleh nakes sebesar 52.08% (Sistem Informasi Spasial Nasional (SISN), Bakosurtanal, 2005).Persentase penolong persalinan di Kabupaten Sinjai tahun 2004 oleh tenaga medis adalah 46,94 % dan oleh tenaga non medis 53,06 %. Angka tersebut menunjukkan bahwa di Kabupaten Sinjai, cakupan penolong persalinan oleh bidan masih jauh dari target nasional (Susenas 2004). Pemilihan Puskesmas Borong Kompleks sebagai lokasi penelitian dikarenakan wilayah kerjanya yang sangat luas yaitu mencakup satu kecamatan yang terdiri dari tujuh desa dan satu kelurahan. Di samping itu, juga disebabkan perbandingan jumlah bidan dan dukun yang sangat jauh berbeda, dimana jumlah bidan hanya 6 orang sementara jumlah dukun 32 orang yang tersebar di Kecamatan Sinjai Borong. Hal ini turut didukung dengan rata-rata penolong persalinan pada dua tahun terakhir (2004 – 2005) di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks yaitu 46.79 % persalinan ditangani oleh dukun dan 53.21 % persalinan yang ditangani oleh bidan. Jumlah kelahiran di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks, Kabupaten Sinjai tahun 2004 adalah 302 kelahiran, dari jumlah tersebut 177 (58,60%) kelahiran ditolong oleh bidan dan 125 (41,39%) lainnya ditolong oleh dukun. Pada tahun 2005, terdapat 366 kelahiran, 175 (47,81%) kelahiran ditangani oleh bidan dan sisanya ditangani oleh dukun (52,19%). Dengan demikian, rata-rata pemilihan penolong persalinan oleh dukun di Puskesmas Borong Kompleks pada dua tahun terakhir (2004 – 2005) adalah sekitar 46,79 % dan oleh bidan sebesar 53,21 % (Data sekunder Puskesmas Borong Kompleks tahun 2004 & 2005).
Tujuan Secara umum penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks, Kabupaten Sinjai tahun 2006.Secara khusus penelitian tujuan dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status ekonomi, kebiasaan keluarga, dan keterjangkauan terhadap sarana pelayanan kesehatan dengan pemilihan penolong persalinan.
BAHAN DAN METODE
Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Borong Kompleks, dimana wilayahnya mencakup keseluruhan Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai yang secara geografis mempunyai luas wilayah sebesar 66,97 km2 atau 8,167 dari luas keseluruhan Kabupaten Sinjai.Kecamatan Sinjai Borong terdiri dari 7 (tujuh) desa dan 1 (satu) kelurahan yang dibagi lagi atas 25 dusun dan 3 lingkungan. Masing-masing desa tersebut adalah Kelurahan Pasir Putih (3 lingkungan), Desa Kessi Buleng (4 dusun), Desa Batu Bulerang (4 dusun), Desa Bonto Tengnga (3 dusun), Desa Barambang (4 dusun), Desa Bonto Katute (4 dusun), Desa Bonto Sinala (3 dusun), dan Desa Biji Nangka (3 dusun) (BPS Kab. Sinjai, 2006). Wilayah kerja Puskesmas Kompleks Borong yang sangat luas tersebut membuat pemerintah setempat membangun beberapa Puskesmas Pembantu (Pustu) di beberapa desa. Dalam wilayah kerja Puskesmas Kompleks Borong, terdapat 4 (empat) Puskesmas Pembantu, masing-masing di Desa Barambang, Desa Bonto Sinala, Desa Biji Nangka, dan Desa Bonto Tengnga. Masing-masing Pustu dikelola oleh bidan desa yang tinggal berdampingan dengan Pustu tersebut, kecuali Pustu Barambang. Bidan desa yang seharusnya mengelola dan tinggal di Pustu Barambang bertempat tinggal tetap di Kelurahan Pasir Putih, sehingga Pustu Barambang baru terbuka ketika Hari Pasar Barambang.
Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang melahirkan dalam tahun 2006, baik melahirkan anaknya dalam keadaan hidup atau mati, namanya tercatat dalam data sasaran ibu bersalin, dan bertempat tinggal di Kecamatan Sinjai Borong, yang sekaligus menjadi wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks. Sampel penelitian adalah ibu-ibu yang memiliki kriteria sesuai dengan yang telah disebutkan di atas dan terpilih menjadi responden setelah dilakukan pengambilan sampel secara acak dengan metode proportional stratified random sampling serta bersedia untuk diwawancarai. Jumlah sampel tiap desa berbeda-beda sesuai dengan jumlah ibu bersalin yang tercatat dalam data sasaran ibu bersalin, kemudian sampel yang diambil dipilih secara random berdasarkan data sasaran ibu bersalin tiap desa tersebut. Pengumpulan Data
1. Data Primer, diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disusun sebelumnya berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan. Kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan kepada responden yang telah terpilih sewaktu melakukan pendataan. Responden ditentukan secara random sesuai dengan data sasaran ibu bersalin setelah dilakukan penentuan jumlah sampel tiap desa dengan menggunakan metode stratified random sampling. Pendataan dilakukan secara door to door kepada ibu yang terpilih sebagai sampel penelitian dan bersedia untuk diwawancarai.
2. Data Sekunder, diperoleh dari Puskesmas Borong Kompleks, Pustu Bonto Tengnga, Pustu Bonto Sinala, Pustu Biji Nangka, Kantor Kecamatan Sinjai Borong, penelusuran internet, dan dari instansi terkait lainnya.
Jenis Variabel
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pemilihan tenaga penolong persalinan sementara variabel bebas adalah variabel pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status ekonomi, kebiasaan keluarga, dan keterjangkauan sarana kesehatan. Adapun kriteria masing masing variabel disajikan sebagai berikut : Variabel bebas Kriteria Pendidikan Ibu 1. Cukup 2. Kurang
Pengetahuan 1. Cukup 2. Kurang Status Ekonomi 1. Gakin 2. Bukan gakin
Kebiasaan Keluarga 1. Baik 2. Tidak baik Keterjangkauan Sarana Yankes 1. Terjangkau 2. Tidak terjangkau
Pendidikan ibu dikatakan cukup jika ibu menamatkan sekolah hingga SMA ke atas dan dikatakan kurang jika hanya menamatkan sekolah hingga SMP ke bawah. Pengetahuan ibu dan kebiasaan keluarga dikategorikan cukup dan kurang berdasarkan hasil skoring jawaban responden dari total skor jawaban yang paling tepat.. Pengetahuan dikategorikan cukup jika responden memperoleh skor ≥ 54,16 % dan dikategorikan kurang jika responden memperoleh skor <> Rp 7.500.
Analisis Data Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif untuk mengetahui distribusi responden berdasarkan variabel-variabel umum sesuai dengan yang terdapat dalam kuesioner dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.
HASIL PENELITIAN
Indikator Penolong Persalinan Jumlah Nakes Non-nakes n % n % N=165 % Pendidikan IbuCukupKurangPengetahuan IbuCukup KurangStatus EkonomiBukan gakin GakinKebiasaan KeluargaBaikTidak baikKeterjangkauan Sarana YankesTerjangkauTidak terjangkau Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan dukun bayi sebagai tenaga penolong persalinan tidak dapat dinafikkan. Pencapaian penolong persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks masih jauh dari target nasional yang diharapkan pada tahun 2000 dimana cakupan penolong persalinan oleh nakes seharusnya mencapai 80 %. Wawancara dilakukan terhadap 140 responden yang terbagi pada tiap-tiap desa di Kecamatan Sinjai Borong. Dari 140 sampel tersebut, 91 orang atau sebesar 65 % melakukan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan dan 49 orang lainnya (35 %) memilih tenaga non-kesehatan sebagai penolong persalinan. Dari 91 orang yang memilih tenaga kesehatan, 4 orang ditolong oleh dokter, 58 orang ditolong oleh bidan, dan sisanya 29 orang ditolong oleh dukun terlatih. Sedangkan dari 49 orang yang ditolong persalinannya oleh tenaga non kesehatan, 26 orang ditolong oleh dukun tidak terlatih, 16 orang ditolong oleh keluarga, 5 orang ditolong oleh ibu kandung, dan 2 orang ditolong oleh nenek. Tabel berikut menunjukkan perbedaan antara tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status keluarga, kebiasaan keluarga, dan keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan. Tabel 1Karakteristik Penolong Persalinan Responden Menurut Indikator Pendidikan, Pengetahuan, Status Ekonomi, Kebiasaan, dan Keterjangkauan YankesDi Kecamatan Sinjai Borong Tahun 2007
Indikator
Penolong Persalinan
Jumlah
Nakes
Non-nakes
n
%
n
%
N=165
%
Pendidikan IbuCukupKurangPengetahuan IbuCukup KurangStatus EkonomiBukan gakin GakinKebiasaan KeluargaBaikTidak baikKeterjangkauan Sarana YankesTerjangkauTidak terjangkau
4645
8011 5239
7714 4843
95.848.9 85.123.9
8052 84.628.6 6466.2
247 1435
1336 1435 2722
4.251.1 14.976.1
2048 15.471.4 3633.8
4892 9446
6575 9149 7565
100100 100100
100100 100100 100100
Sumber : Data primerTabel di atas memperlihatkan perbedaan penentuan penolong persalinan oleh ibu bersalin dengan pendidikan cukup dan kurang. Terlihat bahwa ibu dengan pendidikan cukup lebih banyak memilih nakes yaitu sebesar 95.8 % dari 48 orang responden, sementara ibu dengan pendidikan kurang hanya sebesar 48.9 % yang memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dari 92 orang responden. Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa juga terdapat perbedaan proporsi yang besar antara responden dengan pengetahuan cukup dan kurang dalam hal pemilihan tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan. Sebesar 85.1 % responden dengan pendidikan cukup memilih tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan sementara responden dengan pendidikan kurang hanya sebesar 23.9 % yang memilih nakes sebagai tenaga penolong persalinan.Tabel tersebut juga menunjukkan hasil bahwa dari 65 responden yang masuk dalam kategori bukan gakin, 80 % memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dan 20 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 75 responden yang masuk dalam kategori gakin, 52 % memilih tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan dan 48 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.Kebiasaan keluarga yang dikategorikan baik dan tidak baik memiliki proporsi yang berbeda dalam hal pemilihan penolong persalinan oleh nakes. Sebesar 84.6 % responden dengan kebiasaan baik memilih tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan sementara responden dengan kebiasaan tidak baik hanya sebesar 28.6 % yang memilih nakes sebagai tenaga penolong persalinan.Proporsi responden yang terjangkau dengan sarana yankes dalam pemilihan nakes sebagai penolong persalinan adalah sebesar 64 %. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan responden yang tidak terjangkau dengan sarana yankes yang memilih nakes sebagai penolong persalinan yaitu sebesar 66.2 %. Selanjutnya dengan menggunakan analisis bivariat melalui uji statistik chi square (X2) diperoleh gambaran hubungan antara variabel independen (tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status keluarga, kebiasaan keluarga, dan keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan) dengan variabel dependennya yaitu pemilihan tenaga penolong persalinan. Hasil uji bivariat disajikan pada tabel 2 berikut :
Tabel 2Hasil Uji Bivariat Variabel Independen terhadap Variabel DependenDi Kecamatan Sinjai Borong tahun 2007
No
Variabel
α
X2
P
Keterangan
12345
Pendidikan ibuPengetahuan ibuStatus keluargaKebiasaan keluargaKeterjangkauan sarana yankes
0.050.050.050.050.05
30.52450.8381243.9730.071
0.0000.0000.0010.0000.790
Ada hubunganAda hubunganAda hubunganAda hubunganTidak ada hubungan
Sumber : Data primer Berdasarkan tabel 1 dan 2 di atas dapat disimpulkan bahwa faktor keterjangkauan dengan sarana pelayanan kesehatan tidak begitu berarti dalam hal keterkaitan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan. Dengan kata lain, penentuan penolong persalinan oleh nakes dan non-nakes tidak ditentukan oleh keterjangkauan dengan sarana pelayanan kesehatan. Namun demikian, dapat dilihat pada tabel 1 bahwa responden yang terjangkau dengan sarana pelayanan kesehatan sedikit lebih banyak yang memilih tenaga kesehatan dalam menolong persalinannya dibanding dengan responden yang tidak terjangkau dengan sarana pelayanan kesehatan.
PEMBAHASAN Sebagian besar responden yang memilih tenaga non kesehatan dalam menolong persalinannya mengakui bahwa dukun memiliki kelebihan dibandingkan tenaga medis lainnya dalam menangani persalinan antara lain siap diminta pertolongannya kapan saja dibutuhkan, mudah dijangkau mengingat jumlah dukun yang tersebar di Kecamatan Sinjai Borong sebanyak 32 orang, biaya persalinan lebih murah, imbalan dapat diganti dengan barang, serta adanya hubungan yang akrab dan bersifat kekeluargaan dengan ibu-ibu yang ditolongnya. Di samping itu, dukun bayi bersedia membantu pelaksanaan upacara tradisional yang berkenaan dengan kehamilan dan persalinan yang masih dianut masyarakat.Pendidikan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan mengingat bahwa pendidikan dapat mempengaruhi daya intelektual seseorang dalam memutuskan suatu hal, termasuk penentuan penolong persalinan. Pendidikan ibu yang kurang menyebabkan daya intelektualnya juga masih terbatas sehingga perilakunya masih sangat dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya ataupun perilaku kerabat lainnya atau orang yang mereka tuakan. Pendidikan ibu di sini dikategorikan kurang bilamana ia hanya memperoleh ijazah hingga SMP atau pendidikan lainnya yang setara ke bawah, di mana pendidikan ini hanya mencukupi pendidikan dasar 9 tahun. Sementara pendidikan reproduksi baru diajarkan secara lebih mendetail di jenjang pendidikan SMA ke atas.Penelitian serupa yang dilakukan oleh Bangsu, 1998 menunjukkan bahwa pendidikan ibu merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan dengan p = 0.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berpendidikan kurang, 86.21 % memilih dukun bayi sebagai penolong persalinan dan ibu yang berpendidikan tinggi, 85.42 % memilih tenaga medis sebagai penolong persalinan. Pengetahuan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam rangka perubahan pola pikir dan perilaku suatu kelompok dan masyarakat. Pengetahuan ini terkait dengan lingkungan di mana responden menetap. Keadaan lingkungan sekitar sedikit banyaknya akan mempengaruhi pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan mengenai kehamilan dan persalinan. Di samping itu, keterpaparan dengan media komunikasi akan mempengaruhi kadar pengetahuannya. Bagaimana mungkin mereka dapat terpapar dengan kondisi yang up to date sementara daerah tempat tinggalnya saja jauh dari keramaian dan keterjangkauan, didukung lagi dengan tingkat pendidikan yang relatif masih kurang.Hasil penelitian Bangsu, 1998 menyatakan dari 77 ibu yang berpengetahuan rendah, 73 % di antaranya memilih dukun bayi sebagai tenaga penolong persalinan. Dari 43 ibu yang berpengetahuan cukup 60.47 % masih memilih dukun bayi dalam pertolongan persalinannya. Sementara ibu yang berpengetahuan tinggi 95.56 % dari 45 orang responden memilih tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan.Sebagian besar responden dengan status gakin memiliki kartu Askeskin/JPS sehingga mereka hanya membayar sedikit saja ketika bidan membantu proses persalinannya karena biaya kesehatan mereka telah disubsidi oleh pemerintah melalui kepemilikan kartu JPS/Askeskin tersebut.Begitu pula halnya jika memilki SKTM dari kecamatan setempat, maka mereka akan mendapatkan keringanan biaya pada sarana pelayanan kesehatan (RS, Puskesmas, atau Pustu). Dengan demikian keberadaan jaminan pembiayaan kesehatan sangat berarti dengan melihat cakupan pertolongan persalinan oleh nakes pada keluarga dengan status gakin lebih besar dibanding pemilihan tenaga non kesehatan, meskipun tidak jauh berbeda.Penelitian Suprapto, 2002 mengungkapkan bahwa ibu dengan status ekonomi kurang mampu cenderung mencari pertolongan ke non nakes. Kelompok ini berkisar 20-40 % dengan karakteristik individu yaitu banyak tinggal di perdesaan, ibu/bapak berpendidikan SD-SMP atau tidak sekolah, ibu/bapak bekerja di pertanian atau tidak bekerja dan tidak mempunyai jaminan kesehatan.Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang dengan bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas dan dianggap baik dan benar. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh kebiasaan lingkungan sehari-hari di mana ia hidup dan dibesarkan. Kebiasaan merupakan satu hal mendasar yang mempengaruhi perilaku seseorang, termasuk perilaku kesehatan yang dalam hal ini kehamilan dan persalinan. Namun, faktor pendidikan dan pengetahuan memiliki andil pula dalam mengubah kebiasaan tersebut.Penuturan sebagian responden menyatakan mereka telah membuktikan khasiat pengobatan yang biasanya orang tua/orang yang mereka tuakan lakukan, dan itu tidak kalah mujarabnya dengan obat-obatan kimia yang ada saat ini. Padahal kerabat mereka yang lebih tua hanya melafalkan baca-baca untuk menyembuhkan penyakitnya atau penyakit seseorang. Kepercayaan akan kebiasaan tersebut mereka bawa hingga saat ini, meskipun tidak sepenuhnya dibenarkan.Pemilihan penolong persalinan oleh ibu bersalin berhubungan dengan pendidikan, kebiasaan, pengetahuan, dan status ekonomi. Meskipun ibu tidak terjangkau dengan sarana pelayanan kesehatan namun karena keempat faktor yang berhubungan di atas, maka ia tetap memilih nakes dalam membantu proses persalinannya karena itulah yang telah ia yakini. Masalah keterjangkauan tidak begitu berarti untuk menjadi faktor penentu pemilihan penolong persalinan oleh ibu bersalin tahun 2006 di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Responden yang memilih nakes sebagai tenaga penolong persalinan sebesar 65 % dan 35 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.2. Pendidikan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.3. Dari 48 responden yang memiliki pendidikan cukup, 95.8 % memilih tenaga kesehatan dan 4.2 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 92 responden memiliki pendidikan kurang, 48.9 % memilih tenaga kesehatan dan 51.1 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.4. Pengetahuan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.5. Dari 94 responden yang memiliki pengetahuan cukup, 85.1 % memilih tenaga kesehatan dan 14.9 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 46 responden memiliki pengetahuan kurang, 23.9 % memilih tenaga kesehatan dan 76.1 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.6. Status ekonomi berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.7. Dari 65 responden dengan kategori bukan gakin, 80 % memilih tenaga kesehatan dan 20 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 75 responden dengan kategori gakin, 52 % memilih tenaga kesehatan dan 48 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.8. Kebiasaan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.9. Dari 91 responden dengan kebiasaan baik, 84.6 % memilih tenaga kesehatan dan 15.4 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 49 responden dengan kebiasaan tidak baik, 28.6 % memilih tenaga kesehatan dan 71.4 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.10. Tidak ada hubungan antara keterjangkauan terhadap sarana pelayanan kesehatan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan.11. Proporsi responden yang terjangkau dengan sarana yankes dalam pemilihan nakes sebagai penolong persalinan adalah sebesar 64 % dan tidak jauh berbeda dengan responden yang tidak terjangkau dengan sarana yankes yang memilih nakes sebagai penolong persalinan yaitu sebesar 66.2 %. Saran
1. Mengingat cakupan persalinan yang masih rendah oleh tenaga kesehatan yaitu sebesar 65 %, diharapkan kerja sama lintas sektoral untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui peningkatan status ekonomi.2. Pembinaan masyarakat dalam membentuk usaha kecil dan menengah (kerajinan tangan) dapat menjadi salah satu alternatif peningkatan perekonomian keluarga yang dapat digalakkan lewat program PKK. 3. Perlu diadakan komunikasi/penyuluhan kepada masyarakat secara berkesinambungan mengenai pemanfaatan tenaga kesehatan di desa secara optimal.4. Memberikan pelatihan kepada dukun bukan saja dalam hal pertolongan persalinan yang bersih dan aman serta pengenalan dini keadaan patologis untuk rujukan, namun juga memberikan pemahaman mengenai program keluarga berencana sehingga bidan dan dukun dapat menjadi partner terdepan dalam program KB tersebut.5. Tabungan bersalin (tabulin) yang dibentuk berdasarkan RW atau Posyandu dapat menjadi salah satu alternatif untuk meringankan biaya persalinan ibu-ibu anggota tabulin tersebut. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT atas Rahmat dan Hidayah-Nya kepada penulis dalam kelancaran proses penelitian. Kepada bapak Dr. drg. A. Zulkifli A., MS dan bapak Dr Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes dalam bimbingan dan masukannya untuk penyelesaian artikel ini. Kepada Camat Kecamatan Sinjai Borong beserta staf, Kepala Puskesmas Borong Kompleks beserta seluruh stafnya, para bidan desa, semua responden yang bersedia meluangkan waktunya, saudara Bisman Siregar, sahabat-sahabatku serta semua pihak yang telah membantu terselesainya proses penelitian ini.Terkhusus penulis ucapkan terima kasih kepada ayahanda tercinta Drs. Muhammad Jakir Rasit dan Ibunda tercinta A. Husnih atas ketabahan hati dalam mendidik dan membesarkan penulis dari buaian hingga saat ini, semoga suatu hari nanti anakda dapat menjadi seseorang yang bisa dibanggakan dan selalu menciptakan senyuman di wajah kalian. Untuk saudaraku tercinta Ado atas kebersamaan yang selama ini kami jalani dan lakoni bersama. DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin, Ridwan. Epidemiologi Perencanaan dan Pelayanan Kesehatan. Makassar : FKM-UH. 2004. Anonim. Kajian Kematian Ibu, Kematian Anak, dan Status Gizi di Indonesia. Internet, http://surkesnas.litbang.depkes.go.id/. Diakses tanggal 14 November 2006.
Anonim, Tentang Raskin. Internet, http://www.bulog.go.id/. Diakses tanggal 18 Februari 2007. Anonim, Masalah Kesehatan Wanita. Internet, http://www.medicastore.com/. Diakses tanggal 20 Februari 2007.
Anonim, Setiap jam 2 orang Ibu Bersalin Meninggal Dunia. Internet, http://www.depkes.go.id/. Diakses tanggal 21 Februari 2007. Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. Indikator Kesejahteraan Rakyat Sulawesi Selatan tahun 2004. Makassar : BPS Provinsi Sulawesi Selatan. 2004.
Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. Indikator Sosial Ekonomi Sulawesi Selatan tahun 2005. Makassar : BPS Provinsi Sulawesi Selatan. 2005. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai. Kecamatan Sinjai Borong dalam Angka tahun 2005/2006. Sinjai : BPS Kab. Sinjai. 2006.
Bakosurtanal, Sistem Informasi Spasial Nasional (SISN). Internet, http://202.155.86.41/kpk/pp10/pp10.htm.%20November%2020066. Bangsu, Tamrin. Dukun Bayi Sebagai Pilihan Utama Tenaga Penolong Persalinan. Jurnal Penelitian UNIB, Vol. VII, No. 2, Juli 2001, Hal. 104-109. Diakses tanggal 26 September 2006.
Chandra, Budiman. Pengantar Statistik Kesehatan. Jakarta : EGC. 1995. Covey, Stephen R. 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif (alih bahasa). Jakarta : Binarupa Aksara. 2001.
Maas, Linda T. Kesehatan Ibu dan Anak : Persepsi Budaya dan Dampak Kesehatannya. USU Digital Library. 2004. Diakses tanggal 21 September 2006.Manuaba, Ida Bagus Gde. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan. 1999. Nasution, Syamsul Arifin. Gambar Penanganan Kasus Kedaruratan Obstetri di RSU Tanjung Pura Kab. Langkat dan RSU Kisaran Kab. Asahan. USU Digital Library. 2003. Diakses tanggal 1 Februari 2007.
Notoatmodjo, Soekidjo. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta : Rineka Cipta. 2003. Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. 2005.
Santoso, Slamet I. Pendidikan di Indonesia Dari Masa ke Masa. Jakarta : CV Haji Masagung. 1987. Suprapto, Agus. Determinan Sosial Ekonomi Pertolongan Persalinan. Internet, http://digilib.litbang.depkes.go.id/. Diakses tanggal 26 September 2006.
Suprapto, Agus. Pola Pertolongan Persalinan 5 Tahun Terakhir Hubungannya dengan Faktor Sosial Ekonomi Di Indonesia. Internet, http://digilib.litbang.depkes.go.id/. Diakses tanggal 26 September 2006.
Prisandi, Riza Tegar. Quran Version of 7 Habits of Highly Effective People. Internet. Diakses tanggal 23 Januari 2007. Outlook Volume 16 Edisi khusus. Keselamatan Ibu : Keberhasilan dan Tantangan. Januari 1999. Diakses tanggal 3 Januari 2007.
Make a Comment
Make A Comment: ( 1 so far )
You must be logged in to post a comment.
One Response to “Pemilihan tenaga penolong persalinan di Borong Sinjai”
Comments RSS Feed
[...] Januari 24, 2008 · No Comments HASIL PENELITIAN Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan dukun bayi sebagai tenaga penolong persalinan tidak dapat dinafikkan. Pencapaian penolong persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks masih jauh dari target nasional yang diharapkan pada tahun 2000 dimana cakupan penolong persalinan oleh nakes seharusnya mencapai 80 %. Wawancara dilakukan terhadap 140 responden yang terbagi pada tiap-tiap desa di Kecamatan Sinjai Borong. Dari 140 sampel tersebut, 91 orang atau sebesar 65 % melakukan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan dan 49 orang lainnya (35 %) memilih tenaga non-kesehatan sebagai penolong persalinan. Dari 91 orang yang memilih tenaga kesehatan, 4 orang ditolong oleh dokter, 58 orang ditolong oleh bidan, dan sisanya 29 orang ditolong oleh dukun terlatih. Sedangkan dari 49 orang yang ditolong persalinannya oleh tenaga non kesehatan, 26 orang ditolong oleh dukun tidak terlatih, 16 orang ditolong oleh keluarga, 5 orang ditolong oleh ibu kandung, dan 2 orang ditolong oleh nenek.selengkapnya [...]
PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN « Rofiqahmad’s WeblogJanuary 24, 2008
Where's The Comment Form?
About
“Smart and Visioner For Nation Health”
RSS
Complete Feed
Comments
Subscribe Via RSS







Meta
bergantinya siang dan malam adalah tanda kebesaran Ilahi
May 2007
M
T
W
T
F
S
S
« Apr

Jun »

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

pilih kategori Select Category Al Quran (1) Anouncement (14) artikel ilmiah (57) artikel populer (6) Buku (3) Current Issue (1) cv ku (2) disertasi (2) epid perencanaan (11) epidemiologi kontemporer (16) epidemiologi pelayanan kesehatan (3) essay (2) fetp unhas (1) FKM UNHAS (3) foto (1) fungsional epidemiologi (1) genetik (3) griffith (1) Griffith class (2) home (1) ielts (2) inferensi kausal (4) info sehat (1) jalan jalan (1) jen (1) kampusiana (1) Konferensi & Konas (2) lectures (1) mutu rs (1) Prinsip Epid (2) reportase (1) reportase fkm (1) sains (2) surveilens (3) technorati (1) Uncategorized (31) who (1)
/* 0 ) {
location.href = "http://ridwanamiruddin.wordpress.com/?cat="+dropdown.options[dropdown.selectedIndex].value;
}
}
dropdown.onchange = onCatChange;
/* ]]> */

tulisan teratas
Evidence base Epidemiologi anemia deficiensi zat besi pada ibu hamil di Indonesia
Studi kasus kontrol Anemia Ibu hamil (Jurnal Medika Unhas)
Hipertensi dan faktor risikonya dalam kajian epidemiologi
TUMBUH KEMBANG ANAK
Current Issue Kematian Anak karena Penyakit Diare
Capaian Kesehatan Indonesia
Konsep baru paradigma kesehatan ( Bab 3; epid perencanaan; edited)
susu formula menghambat pemberian asi ekslusif
komentar kamu

Ridwan Amiruddin on Salam sahabat

Ridwan Amiruddin on Salam sahabat

che11 on Salam sahabat

Ridwan Amiruddin on POLONIUM-210 HIDDEN IN CIGARET…

phibee on Capaian Kesehatan Indones…

phibee on BAB V. IDENTIFIKASI MASALAH…
penulis
Ridwan Amiruddin
visitor
219,453 hits
"beri komentar"
Salam sahabat

Tidak ada komentar: