Sabtu, 18 Oktober 2008

tian mantri

http://sobatbaru.blogspot.com/2008/06/perawatan-bayi-baru-lahir.html
Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Indah Nya Berbagi :)

Selasa, 2008 Juni 03

Perawatan Bayi Baru Lahir
GAMBARAN PENGETAHUAN IBU
TENTANG PERAWATAN BAYI BARU LAHIR
Pada era globalisasi yang semakin maju diharapkan bangsa Indonesia dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, salah satunya dalam bidang kesehatan bayi dan anak. Pemberian asuhan kesehatan pada anak yang tidak terpecahkan dari keluarga dan masyarakat. Berbagai peran yang terdapat dalam keluarga adalah peranan ayah, peranan ibu, peranan anak, dimana fungsi pokok keluarga adalah terhadap anggota keluarganya adalah asah,asih, asuh. Sehingga dibutuhkan peranan ibu dalam pengasuhan dan perawatan yang baik untuk bayinya ( Effendi, 1998: 34-36 ). Kebanyakan perwatan neonatal yang dialami masyarakat adalah kurangnya pengetahuan dalam perwatan BBL. Terutama didaerah desa pelosok banyak dijumpai ibu yang baru melahirkan dengan perawatan bayi yang tradisional serta pendidikan dan tingkat sosial ekonominya yang masih rendah. Selain itu juga dipengaruhi oleh kurangnya pengetahuan wanita, suami dan keluarga tentang pentingnya pelayanan neonatal (Depkes RI, 2001).
Peride BBL merupakan suatu periode penyesuaian kearah bentuk kehidupan tidak tergantung sebagain besar dari proses penyesuaian ini diselesaikan dalam sekitarminggu pertama. Sekalipun demi tujuan bulan pertama kehidupan dilukiskan sebagai periode neonatal. Menurut nelson, mengatakan bahwa mortalitas neoratus telah menurun secara progresif, angka kematian mortalitas tertinggi terjadi selama 24 jam bersama setelah lahir yang disebabkan oleh kurangnya perawatan neoratotal. Disamping hal tersebut juga ibu belum banyak mengetahui tentang perawatan bayinya yang baik dan jika melakukan perawatan yang salah akan mempercepat kematian bayi (Nelson, 2000:140)
Salha satu upaya atau cara untuk mengatasi masalah perawatan bayi BL, mala pusat pelayanan kesehatan dan perawatan maupun Puskesmas mengadakan program bagi ibu yaitu dengan menjelaskan pemberian asuhan keperawatan yang aman dan berkwalitas, juga mengenai perfokus dan beradaptasi dengan keluarga dan bayi baru lahir. Selain itu peningkatan pengetahuan ibu dan keluarga dalam rangka pemberdayaan wanita dan keluarga ini sudah menjadi salah satu kebijkan pemerintah dengan mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan untuk menjamin perilaku sehat dan peningkatan pelayanan kesehatan ( Barbara 2002 ).
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana gambaran pengetahuan pada ibu tentnag perwatan bayi baru lahir ?
Tujuan :
Tujuan Umum.
Untuk mempelajari gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir
Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat yang terjadi setelah lahir.
b. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang cara perawatan memandikan bayi baru lahir.
c. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan ibu tentang cara memakai baju bayi.
d. Mengidentifikasi gambaran pengethauan ibu tentang cara mengangkat bayi dari posisi terlentang
MANFAAT PENELITIAN
Bagi peneliti
Diharapkan penelitian ini memberikan masukan bagi protesi dalam mengembangkan perencanaan keperawatan yang akan dilakukan tentang perawatan bayi baru lahir.
Bagi Institusi / pendidikan
Memberikan masukan pada perawat akan pentingnya informasi dan motivasi ibu tentang perawatan bayi baru lahir, serta dapat dijadikan untuk melengkapi perpustakaan bahan pustaka bagi pengembangan untuk penelitian yang lebih lanjut.
Bagi peneliti yang akan datang
Diharapkan penelitian ini dapat dmanfaatkan sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya.
Bagi Masyarakat
Diharapkan ibu mengerti dan faham khususnya tentang gambaran pengetahuan ibu pada bayi baru lahir.
KERANGKA KONSEP


Kerangka konsep adalah sesuatu yang abstrak logika. Secara arti harfiah dan akan membantu peneliti dalam menghubungkan hasil temuan dengan body knowledge (Nursalam dan Pariani, 2001:31)
Desain Penelitian
Desain penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian yang memungkinkan memaksimalkan suatu control beberapa factor yang bisa mempengaruhi validasi suatu hasil. Suatu petunjuk peneliti dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan ( Nursalam dan Pariani, 2001).
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang merupakan rancangan penelitian bertujuan mendiskriptif ( memaparkan ) peristiwa-peristiwa yang urgen yang terjadi pada masa kini. Deskriptif peristiwa dilakukan secara sistematis dan telah menekankan pada data factual dari pada penyimpulan ( Nursalam, 2003:84 )
Definisi Opersional Variabel
Pengertian Variabel
Variabel adalah perilaku atau karakteristik yang memberikan nilai beda terhadap sesuatu (benda, manusia dan lain-lain). (Nursalam,2003), variable dalam penelitian ini adalah DD.
Variabel dispenden adalah variabel yang menentukan variabel lain suatu kegiatan untuk stimulus yang dimanipulasi oelh peneliti menciptakan suatu dampak pada variabel dependen (Nursalam, 2003). Variabel dependen pada penelitian ini adalah pengetahuan ibu tentang perawatan BBL. Variabel dependen adalah variabel yang nilainya ditentukan oelh variabel lain. Variabel akan muncul sebagai akibat dari manipulasi variabel-variabel lain. Variabel independen pada penelitian ini adalah perawatan bayi baru lahir.
Defisi Operasional
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara opersional dan berdasarkan karakteristik yang diamati, memungkinkan peneliti utnuk melakukan yang observasi atau Pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena menggunakan barometer yang jelas ( Alimun, 2003 ).
I. Instrumen pengumpulan data
Instrumen adalah alat yang dipakai pada waktu penelitian dengan metode (Arikunto, Suhartini, 2006:26). Pada penelitian ini pengumpulan data menggunakan kuesioneri tertutur dengan jawaban yang sudah tersedia.
II. Pertanyaan
Menurut anda perawatan tali pusar yang benar adalah
a. Dikeringkan dan diberi alcohol 70%
b. Dikeringkan dan diberi bedak talk
c. Dikeringkan saja
2.
Analisa Data
Analisa data dalam penelitian me;iputi 4 hal, yaitu Editing, Coding, Seoring, Tabulasi dan prosentasi.
Editing adalah memeriksa kembali semua data yang telah dikumpulkan melalui kuesioner, jika terdapat kuesioner yang belum diisi atau pengisian yang tidak sesuasi petunjuk.
Coding adalah setelah kegiatan pengumpulan data, lembar kuesioner diberi kode dengan menggunakan huruf.
Scoring adalah jawaban dari setiap pertanyaaan diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0.
Tabulasi adalah data yang dikumpulkan atau dikelompokkan dalam table distribusi frek, kemudian hasilnya dikonfirmasikan dalam bentul prosentase dana analisa diskriptif
SP
N = X 100%
SM
N = Nilai yang didapat
SP = Skore yang didapat
SM= Skore Maksimum
Setelah itu hasil prosentase tadi di interprestasikan dengan menggunakan criteria kualitas Sbb :
1. 76 % - 100% = Baik
56% - 75% = Cukup
40% - 55% = Kurang
<> = Sangat kurang
Diposkan oleh Arianto Sam di 11:03:00 AM
Label:

0 komentar:

Poskan Komentar


Link ke posting ini
Buat sebuah Link
Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka
Langgan: Poskan Komentar (Atom)
@import url(http://www.google.com/cse/api/branding.css);

tenaga persalinan

Salam sahabat
Pemilihan tenaga penolong persalinan di Borong Sinjai
http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/05/pemilihan-tenaga-penolong-persalinan-di-borong-sinjai/
Posted on May 5, 2007. Filed under: artikel ilmiah
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN OLEH IBU BERSALIN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BORONG KOMPLEKS KAB. SINJAITAHUN 2006
A. Rasdiyanah Jakir; Dr. Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes
Jalan Sultan Alauddin II Lr. 1 No. 340411-5287421
BAGIAN EPIDEMIOLOGIFAKULTAS KESEHATAN MASYARAKATUNIVERSITAS HASANUDDIN ABSTRAK
Masalah kematian ibu masih merupakan masalah pokok yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, dimana AKI di Indonesia tahun 2005 yaitu 290,8 per seratus ribu kelahiran hidup. Persentase kelahiran di Propinsi Sulawesi Selatan tahun 2004 oleh tenaga medis adalah 57,51 % dan sisanya 42,5 % ditangani oleh tenaga non medis. Sementara di Kabupaten Sinjai, pada tahun 2005 persentase penolong persalinan pertama dan terakhir oleh nakes sebesar 42.93 % dan 52.08 %. Di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks, dari 366 kelahiran pada tahun 2005, 47.81 % persalinan ditangani oleh bidan dan 52.19 % persalinan ditangani oleh dukun. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks tahun 2006. Metode penelitian adalah Cross Sectional Study. Populasi adalah ibu-ibu yang melahirkan tahun 2006, anaknya lahir hidup atau mati, namanya tercatat dalam data sasaran ibu bersalin, dan bertempat tinggal di Kecamatan Sinjai Borong yang berjumlah 220 orang. Sampel penelitian diambil dengan metode proportional stratified random sampling berjumlah 140 orang. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 12 sedangkan analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan sebesar 65 % dari 140 responden memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dan 35 % lainnya memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Hasil uji statistik menunjukkan hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status keluarga, dan kebiasaan keluarga dengan pemilihan tenaga penolong persalinan dengan nilai p masing-masing 0.000, 0.000, 0.001, dan 0.000. Sementara keterjangkauan terhadap sarana pelayanan kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan pemilihan tenaga penolong persalinan. Kerjasama lintas sektoral sangat diharapkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, pemanfaatan tenaga kesehatan di desa secara optimal dalam upaya komunikasi/penyuluhan kepada masyarakat. Kata kunci : Penolong Persalinan; Persalinan; Ibu Bersalin
PENDAHULUAN
Latar Belakang Analisis terhadap penolong persalinan penting karena salah satu indikator proses yang penting dalam program safemotherhood adalah memperhatikan seberapa banyak persalinan yang dapat ditangani, khususnya oleh tenaga kesehatan. Indikator ini masih menjadi indikator porsi kematian ibu (AKI) yang penting dan baik serta selalu diperhatikan dalam beberapa bahasan. Semakin tinggi cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan semakin rendah risiko terjadinya kematian (Agus Suprapto, 26 September 2006). AKI Indonesia pada tahun 2002/2003 adalah sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2002-2003). Angka tersebut telah mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi 290,8 per seratus ribu kelahiran hidup (Depkes, 2005).Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2010 adalah angka kematian ibu menjadi 125 per 100.000 kelahiran hidup melalui pelaksanaan MPS (Making Pregnancy Safer) dengan salah satu pesan kunci yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih (Depkes, 18 Februari 2007).Persentase kelahiran pada tahun 2003 yang ditangani oleh tenaga medis terdapat sekitar 56,95 % dan pada tahun 2004 naik menjadi sekitar 57,51 % (Susenas 2003 & 2004). Sementara persentase penolong persalinan oleh tenaga non medis masih cukup tinggi yaitu 43,05 % pada tahun 2003 dan 42,5 % pada tahun 2004, sehingga perlu pemantauan pengetahuan akan pentingnya kesehatan bagi dukun (Indikator Kesra Sulsel, BPS 2004). Penolong persalinan terakhir di Sulawesi Selatan oleh dokter sebanyak 8,61 %, bidan 47,57 %, tenaga paramedis lainnya 1,33 %, dukun 37,92 %, keluarga 4,07 %, dan lainnya 0,51 % (Susenas 2004). Berdasarkan data statistik kesra hasil survei serial ekonomi nasional, mayoritas penolong persalinan terakhir Kota Makassar pada tahun 2004 adalah bidan 50,43 %, dokter 24,67 %, dukun 17,22 %, keluarga dan lainnya 7,68% (Susenas 2004).Persentase penolong persalinan pertama dan terakhir di Propinsi Sulawesi Selatan oleh tenaga kesehatan tahun 2005, khususnya di Kabupaten Sinjai yaitu persentase penolong persalinan pertama oleh nakes sebesar 42.93%, sementara persentase penolong persalinan terakhir oleh nakes sebesar 52.08% (Sistem Informasi Spasial Nasional (SISN), Bakosurtanal, 2005).Persentase penolong persalinan di Kabupaten Sinjai tahun 2004 oleh tenaga medis adalah 46,94 % dan oleh tenaga non medis 53,06 %. Angka tersebut menunjukkan bahwa di Kabupaten Sinjai, cakupan penolong persalinan oleh bidan masih jauh dari target nasional (Susenas 2004). Pemilihan Puskesmas Borong Kompleks sebagai lokasi penelitian dikarenakan wilayah kerjanya yang sangat luas yaitu mencakup satu kecamatan yang terdiri dari tujuh desa dan satu kelurahan. Di samping itu, juga disebabkan perbandingan jumlah bidan dan dukun yang sangat jauh berbeda, dimana jumlah bidan hanya 6 orang sementara jumlah dukun 32 orang yang tersebar di Kecamatan Sinjai Borong. Hal ini turut didukung dengan rata-rata penolong persalinan pada dua tahun terakhir (2004 – 2005) di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks yaitu 46.79 % persalinan ditangani oleh dukun dan 53.21 % persalinan yang ditangani oleh bidan. Jumlah kelahiran di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks, Kabupaten Sinjai tahun 2004 adalah 302 kelahiran, dari jumlah tersebut 177 (58,60%) kelahiran ditolong oleh bidan dan 125 (41,39%) lainnya ditolong oleh dukun. Pada tahun 2005, terdapat 366 kelahiran, 175 (47,81%) kelahiran ditangani oleh bidan dan sisanya ditangani oleh dukun (52,19%). Dengan demikian, rata-rata pemilihan penolong persalinan oleh dukun di Puskesmas Borong Kompleks pada dua tahun terakhir (2004 – 2005) adalah sekitar 46,79 % dan oleh bidan sebesar 53,21 % (Data sekunder Puskesmas Borong Kompleks tahun 2004 & 2005).
Tujuan Secara umum penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemilihan penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks, Kabupaten Sinjai tahun 2006.Secara khusus penelitian tujuan dilakukan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status ekonomi, kebiasaan keluarga, dan keterjangkauan terhadap sarana pelayanan kesehatan dengan pemilihan penolong persalinan.
BAHAN DAN METODE
Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Wilayah Kerja Puskesmas Borong Kompleks, dimana wilayahnya mencakup keseluruhan Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai yang secara geografis mempunyai luas wilayah sebesar 66,97 km2 atau 8,167 dari luas keseluruhan Kabupaten Sinjai.Kecamatan Sinjai Borong terdiri dari 7 (tujuh) desa dan 1 (satu) kelurahan yang dibagi lagi atas 25 dusun dan 3 lingkungan. Masing-masing desa tersebut adalah Kelurahan Pasir Putih (3 lingkungan), Desa Kessi Buleng (4 dusun), Desa Batu Bulerang (4 dusun), Desa Bonto Tengnga (3 dusun), Desa Barambang (4 dusun), Desa Bonto Katute (4 dusun), Desa Bonto Sinala (3 dusun), dan Desa Biji Nangka (3 dusun) (BPS Kab. Sinjai, 2006). Wilayah kerja Puskesmas Kompleks Borong yang sangat luas tersebut membuat pemerintah setempat membangun beberapa Puskesmas Pembantu (Pustu) di beberapa desa. Dalam wilayah kerja Puskesmas Kompleks Borong, terdapat 4 (empat) Puskesmas Pembantu, masing-masing di Desa Barambang, Desa Bonto Sinala, Desa Biji Nangka, dan Desa Bonto Tengnga. Masing-masing Pustu dikelola oleh bidan desa yang tinggal berdampingan dengan Pustu tersebut, kecuali Pustu Barambang. Bidan desa yang seharusnya mengelola dan tinggal di Pustu Barambang bertempat tinggal tetap di Kelurahan Pasir Putih, sehingga Pustu Barambang baru terbuka ketika Hari Pasar Barambang.
Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah ibu-ibu yang melahirkan dalam tahun 2006, baik melahirkan anaknya dalam keadaan hidup atau mati, namanya tercatat dalam data sasaran ibu bersalin, dan bertempat tinggal di Kecamatan Sinjai Borong, yang sekaligus menjadi wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks. Sampel penelitian adalah ibu-ibu yang memiliki kriteria sesuai dengan yang telah disebutkan di atas dan terpilih menjadi responden setelah dilakukan pengambilan sampel secara acak dengan metode proportional stratified random sampling serta bersedia untuk diwawancarai. Jumlah sampel tiap desa berbeda-beda sesuai dengan jumlah ibu bersalin yang tercatat dalam data sasaran ibu bersalin, kemudian sampel yang diambil dipilih secara random berdasarkan data sasaran ibu bersalin tiap desa tersebut. Pengumpulan Data
1. Data Primer, diperoleh melalui daftar pertanyaan (kuesioner) yang telah disusun sebelumnya berdasarkan tujuan penelitian yang dilakukan. Kemudian pertanyaan tersebut ditanyakan kepada responden yang telah terpilih sewaktu melakukan pendataan. Responden ditentukan secara random sesuai dengan data sasaran ibu bersalin setelah dilakukan penentuan jumlah sampel tiap desa dengan menggunakan metode stratified random sampling. Pendataan dilakukan secara door to door kepada ibu yang terpilih sebagai sampel penelitian dan bersedia untuk diwawancarai.
2. Data Sekunder, diperoleh dari Puskesmas Borong Kompleks, Pustu Bonto Tengnga, Pustu Bonto Sinala, Pustu Biji Nangka, Kantor Kecamatan Sinjai Borong, penelusuran internet, dan dari instansi terkait lainnya.
Jenis Variabel
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pemilihan tenaga penolong persalinan sementara variabel bebas adalah variabel pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status ekonomi, kebiasaan keluarga, dan keterjangkauan sarana kesehatan. Adapun kriteria masing masing variabel disajikan sebagai berikut : Variabel bebas Kriteria Pendidikan Ibu 1. Cukup 2. Kurang
Pengetahuan 1. Cukup 2. Kurang Status Ekonomi 1. Gakin 2. Bukan gakin
Kebiasaan Keluarga 1. Baik 2. Tidak baik Keterjangkauan Sarana Yankes 1. Terjangkau 2. Tidak terjangkau
Pendidikan ibu dikatakan cukup jika ibu menamatkan sekolah hingga SMA ke atas dan dikatakan kurang jika hanya menamatkan sekolah hingga SMP ke bawah. Pengetahuan ibu dan kebiasaan keluarga dikategorikan cukup dan kurang berdasarkan hasil skoring jawaban responden dari total skor jawaban yang paling tepat.. Pengetahuan dikategorikan cukup jika responden memperoleh skor ≥ 54,16 % dan dikategorikan kurang jika responden memperoleh skor <> Rp 7.500.
Analisis Data Analisis data yang dilakukan adalah analisis deskriptif untuk mengetahui distribusi responden berdasarkan variabel-variabel umum sesuai dengan yang terdapat dalam kuesioner dan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen.
HASIL PENELITIAN
Indikator Penolong Persalinan Jumlah Nakes Non-nakes n % n % N=165 % Pendidikan IbuCukupKurangPengetahuan IbuCukup KurangStatus EkonomiBukan gakin GakinKebiasaan KeluargaBaikTidak baikKeterjangkauan Sarana YankesTerjangkauTidak terjangkau Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan dukun bayi sebagai tenaga penolong persalinan tidak dapat dinafikkan. Pencapaian penolong persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks masih jauh dari target nasional yang diharapkan pada tahun 2000 dimana cakupan penolong persalinan oleh nakes seharusnya mencapai 80 %. Wawancara dilakukan terhadap 140 responden yang terbagi pada tiap-tiap desa di Kecamatan Sinjai Borong. Dari 140 sampel tersebut, 91 orang atau sebesar 65 % melakukan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan dan 49 orang lainnya (35 %) memilih tenaga non-kesehatan sebagai penolong persalinan. Dari 91 orang yang memilih tenaga kesehatan, 4 orang ditolong oleh dokter, 58 orang ditolong oleh bidan, dan sisanya 29 orang ditolong oleh dukun terlatih. Sedangkan dari 49 orang yang ditolong persalinannya oleh tenaga non kesehatan, 26 orang ditolong oleh dukun tidak terlatih, 16 orang ditolong oleh keluarga, 5 orang ditolong oleh ibu kandung, dan 2 orang ditolong oleh nenek. Tabel berikut menunjukkan perbedaan antara tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status keluarga, kebiasaan keluarga, dan keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan. Tabel 1Karakteristik Penolong Persalinan Responden Menurut Indikator Pendidikan, Pengetahuan, Status Ekonomi, Kebiasaan, dan Keterjangkauan YankesDi Kecamatan Sinjai Borong Tahun 2007
Indikator
Penolong Persalinan
Jumlah
Nakes
Non-nakes
n
%
n
%
N=165
%
Pendidikan IbuCukupKurangPengetahuan IbuCukup KurangStatus EkonomiBukan gakin GakinKebiasaan KeluargaBaikTidak baikKeterjangkauan Sarana YankesTerjangkauTidak terjangkau
4645
8011 5239
7714 4843
95.848.9 85.123.9
8052 84.628.6 6466.2
247 1435
1336 1435 2722
4.251.1 14.976.1
2048 15.471.4 3633.8
4892 9446
6575 9149 7565
100100 100100
100100 100100 100100
Sumber : Data primerTabel di atas memperlihatkan perbedaan penentuan penolong persalinan oleh ibu bersalin dengan pendidikan cukup dan kurang. Terlihat bahwa ibu dengan pendidikan cukup lebih banyak memilih nakes yaitu sebesar 95.8 % dari 48 orang responden, sementara ibu dengan pendidikan kurang hanya sebesar 48.9 % yang memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dari 92 orang responden. Selanjutnya hasil penelitian menunjukkan bahwa juga terdapat perbedaan proporsi yang besar antara responden dengan pengetahuan cukup dan kurang dalam hal pemilihan tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan. Sebesar 85.1 % responden dengan pendidikan cukup memilih tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan sementara responden dengan pendidikan kurang hanya sebesar 23.9 % yang memilih nakes sebagai tenaga penolong persalinan.Tabel tersebut juga menunjukkan hasil bahwa dari 65 responden yang masuk dalam kategori bukan gakin, 80 % memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan dan 20 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 75 responden yang masuk dalam kategori gakin, 52 % memilih tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan dan 48 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.Kebiasaan keluarga yang dikategorikan baik dan tidak baik memiliki proporsi yang berbeda dalam hal pemilihan penolong persalinan oleh nakes. Sebesar 84.6 % responden dengan kebiasaan baik memilih tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan sementara responden dengan kebiasaan tidak baik hanya sebesar 28.6 % yang memilih nakes sebagai tenaga penolong persalinan.Proporsi responden yang terjangkau dengan sarana yankes dalam pemilihan nakes sebagai penolong persalinan adalah sebesar 64 %. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan responden yang tidak terjangkau dengan sarana yankes yang memilih nakes sebagai penolong persalinan yaitu sebesar 66.2 %. Selanjutnya dengan menggunakan analisis bivariat melalui uji statistik chi square (X2) diperoleh gambaran hubungan antara variabel independen (tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status keluarga, kebiasaan keluarga, dan keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan) dengan variabel dependennya yaitu pemilihan tenaga penolong persalinan. Hasil uji bivariat disajikan pada tabel 2 berikut :
Tabel 2Hasil Uji Bivariat Variabel Independen terhadap Variabel DependenDi Kecamatan Sinjai Borong tahun 2007
No
Variabel
α
X2
P
Keterangan
12345
Pendidikan ibuPengetahuan ibuStatus keluargaKebiasaan keluargaKeterjangkauan sarana yankes
0.050.050.050.050.05
30.52450.8381243.9730.071
0.0000.0000.0010.0000.790
Ada hubunganAda hubunganAda hubunganAda hubunganTidak ada hubungan
Sumber : Data primer Berdasarkan tabel 1 dan 2 di atas dapat disimpulkan bahwa faktor keterjangkauan dengan sarana pelayanan kesehatan tidak begitu berarti dalam hal keterkaitan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan. Dengan kata lain, penentuan penolong persalinan oleh nakes dan non-nakes tidak ditentukan oleh keterjangkauan dengan sarana pelayanan kesehatan. Namun demikian, dapat dilihat pada tabel 1 bahwa responden yang terjangkau dengan sarana pelayanan kesehatan sedikit lebih banyak yang memilih tenaga kesehatan dalam menolong persalinannya dibanding dengan responden yang tidak terjangkau dengan sarana pelayanan kesehatan.
PEMBAHASAN Sebagian besar responden yang memilih tenaga non kesehatan dalam menolong persalinannya mengakui bahwa dukun memiliki kelebihan dibandingkan tenaga medis lainnya dalam menangani persalinan antara lain siap diminta pertolongannya kapan saja dibutuhkan, mudah dijangkau mengingat jumlah dukun yang tersebar di Kecamatan Sinjai Borong sebanyak 32 orang, biaya persalinan lebih murah, imbalan dapat diganti dengan barang, serta adanya hubungan yang akrab dan bersifat kekeluargaan dengan ibu-ibu yang ditolongnya. Di samping itu, dukun bayi bersedia membantu pelaksanaan upacara tradisional yang berkenaan dengan kehamilan dan persalinan yang masih dianut masyarakat.Pendidikan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan mengingat bahwa pendidikan dapat mempengaruhi daya intelektual seseorang dalam memutuskan suatu hal, termasuk penentuan penolong persalinan. Pendidikan ibu yang kurang menyebabkan daya intelektualnya juga masih terbatas sehingga perilakunya masih sangat dipengaruhi oleh keadaan sekitarnya ataupun perilaku kerabat lainnya atau orang yang mereka tuakan. Pendidikan ibu di sini dikategorikan kurang bilamana ia hanya memperoleh ijazah hingga SMP atau pendidikan lainnya yang setara ke bawah, di mana pendidikan ini hanya mencukupi pendidikan dasar 9 tahun. Sementara pendidikan reproduksi baru diajarkan secara lebih mendetail di jenjang pendidikan SMA ke atas.Penelitian serupa yang dilakukan oleh Bangsu, 1998 menunjukkan bahwa pendidikan ibu merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan tenaga penolong persalinan dengan p = 0.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu yang berpendidikan kurang, 86.21 % memilih dukun bayi sebagai penolong persalinan dan ibu yang berpendidikan tinggi, 85.42 % memilih tenaga medis sebagai penolong persalinan. Pengetahuan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam rangka perubahan pola pikir dan perilaku suatu kelompok dan masyarakat. Pengetahuan ini terkait dengan lingkungan di mana responden menetap. Keadaan lingkungan sekitar sedikit banyaknya akan mempengaruhi pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan mengenai kehamilan dan persalinan. Di samping itu, keterpaparan dengan media komunikasi akan mempengaruhi kadar pengetahuannya. Bagaimana mungkin mereka dapat terpapar dengan kondisi yang up to date sementara daerah tempat tinggalnya saja jauh dari keramaian dan keterjangkauan, didukung lagi dengan tingkat pendidikan yang relatif masih kurang.Hasil penelitian Bangsu, 1998 menyatakan dari 77 ibu yang berpengetahuan rendah, 73 % di antaranya memilih dukun bayi sebagai tenaga penolong persalinan. Dari 43 ibu yang berpengetahuan cukup 60.47 % masih memilih dukun bayi dalam pertolongan persalinannya. Sementara ibu yang berpengetahuan tinggi 95.56 % dari 45 orang responden memilih tenaga kesehatan sebagai tenaga penolong persalinan.Sebagian besar responden dengan status gakin memiliki kartu Askeskin/JPS sehingga mereka hanya membayar sedikit saja ketika bidan membantu proses persalinannya karena biaya kesehatan mereka telah disubsidi oleh pemerintah melalui kepemilikan kartu JPS/Askeskin tersebut.Begitu pula halnya jika memilki SKTM dari kecamatan setempat, maka mereka akan mendapatkan keringanan biaya pada sarana pelayanan kesehatan (RS, Puskesmas, atau Pustu). Dengan demikian keberadaan jaminan pembiayaan kesehatan sangat berarti dengan melihat cakupan pertolongan persalinan oleh nakes pada keluarga dengan status gakin lebih besar dibanding pemilihan tenaga non kesehatan, meskipun tidak jauh berbeda.Penelitian Suprapto, 2002 mengungkapkan bahwa ibu dengan status ekonomi kurang mampu cenderung mencari pertolongan ke non nakes. Kelompok ini berkisar 20-40 % dengan karakteristik individu yaitu banyak tinggal di perdesaan, ibu/bapak berpendidikan SD-SMP atau tidak sekolah, ibu/bapak bekerja di pertanian atau tidak bekerja dan tidak mempunyai jaminan kesehatan.Kebiasaan merupakan suatu bentuk perbuatan berulang-ulang dengan bentuk yang sama yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan-tujuan jelas dan dianggap baik dan benar. Perilaku seseorang dipengaruhi oleh kebiasaan lingkungan sehari-hari di mana ia hidup dan dibesarkan. Kebiasaan merupakan satu hal mendasar yang mempengaruhi perilaku seseorang, termasuk perilaku kesehatan yang dalam hal ini kehamilan dan persalinan. Namun, faktor pendidikan dan pengetahuan memiliki andil pula dalam mengubah kebiasaan tersebut.Penuturan sebagian responden menyatakan mereka telah membuktikan khasiat pengobatan yang biasanya orang tua/orang yang mereka tuakan lakukan, dan itu tidak kalah mujarabnya dengan obat-obatan kimia yang ada saat ini. Padahal kerabat mereka yang lebih tua hanya melafalkan baca-baca untuk menyembuhkan penyakitnya atau penyakit seseorang. Kepercayaan akan kebiasaan tersebut mereka bawa hingga saat ini, meskipun tidak sepenuhnya dibenarkan.Pemilihan penolong persalinan oleh ibu bersalin berhubungan dengan pendidikan, kebiasaan, pengetahuan, dan status ekonomi. Meskipun ibu tidak terjangkau dengan sarana pelayanan kesehatan namun karena keempat faktor yang berhubungan di atas, maka ia tetap memilih nakes dalam membantu proses persalinannya karena itulah yang telah ia yakini. Masalah keterjangkauan tidak begitu berarti untuk menjadi faktor penentu pemilihan penolong persalinan oleh ibu bersalin tahun 2006 di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Responden yang memilih nakes sebagai tenaga penolong persalinan sebesar 65 % dan 35 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.2. Pendidikan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.3. Dari 48 responden yang memiliki pendidikan cukup, 95.8 % memilih tenaga kesehatan dan 4.2 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 92 responden memiliki pendidikan kurang, 48.9 % memilih tenaga kesehatan dan 51.1 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.4. Pengetahuan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.5. Dari 94 responden yang memiliki pengetahuan cukup, 85.1 % memilih tenaga kesehatan dan 14.9 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 46 responden memiliki pengetahuan kurang, 23.9 % memilih tenaga kesehatan dan 76.1 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.6. Status ekonomi berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.7. Dari 65 responden dengan kategori bukan gakin, 80 % memilih tenaga kesehatan dan 20 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 75 responden dengan kategori gakin, 52 % memilih tenaga kesehatan dan 48 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.8. Kebiasaan ibu berhubungan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks.9. Dari 91 responden dengan kebiasaan baik, 84.6 % memilih tenaga kesehatan dan 15.4 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan. Sedangkan dari 49 responden dengan kebiasaan tidak baik, 28.6 % memilih tenaga kesehatan dan 71.4 % memilih tenaga non kesehatan sebagai penolong persalinan.10. Tidak ada hubungan antara keterjangkauan terhadap sarana pelayanan kesehatan dengan pemilihan tenaga penolong persalinan.11. Proporsi responden yang terjangkau dengan sarana yankes dalam pemilihan nakes sebagai penolong persalinan adalah sebesar 64 % dan tidak jauh berbeda dengan responden yang tidak terjangkau dengan sarana yankes yang memilih nakes sebagai penolong persalinan yaitu sebesar 66.2 %. Saran
1. Mengingat cakupan persalinan yang masih rendah oleh tenaga kesehatan yaitu sebesar 65 %, diharapkan kerja sama lintas sektoral untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui peningkatan status ekonomi.2. Pembinaan masyarakat dalam membentuk usaha kecil dan menengah (kerajinan tangan) dapat menjadi salah satu alternatif peningkatan perekonomian keluarga yang dapat digalakkan lewat program PKK. 3. Perlu diadakan komunikasi/penyuluhan kepada masyarakat secara berkesinambungan mengenai pemanfaatan tenaga kesehatan di desa secara optimal.4. Memberikan pelatihan kepada dukun bukan saja dalam hal pertolongan persalinan yang bersih dan aman serta pengenalan dini keadaan patologis untuk rujukan, namun juga memberikan pemahaman mengenai program keluarga berencana sehingga bidan dan dukun dapat menjadi partner terdepan dalam program KB tersebut.5. Tabungan bersalin (tabulin) yang dibentuk berdasarkan RW atau Posyandu dapat menjadi salah satu alternatif untuk meringankan biaya persalinan ibu-ibu anggota tabulin tersebut. UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT atas Rahmat dan Hidayah-Nya kepada penulis dalam kelancaran proses penelitian. Kepada bapak Dr. drg. A. Zulkifli A., MS dan bapak Dr Ridwan Amiruddin, SKM, M.Kes dalam bimbingan dan masukannya untuk penyelesaian artikel ini. Kepada Camat Kecamatan Sinjai Borong beserta staf, Kepala Puskesmas Borong Kompleks beserta seluruh stafnya, para bidan desa, semua responden yang bersedia meluangkan waktunya, saudara Bisman Siregar, sahabat-sahabatku serta semua pihak yang telah membantu terselesainya proses penelitian ini.Terkhusus penulis ucapkan terima kasih kepada ayahanda tercinta Drs. Muhammad Jakir Rasit dan Ibunda tercinta A. Husnih atas ketabahan hati dalam mendidik dan membesarkan penulis dari buaian hingga saat ini, semoga suatu hari nanti anakda dapat menjadi seseorang yang bisa dibanggakan dan selalu menciptakan senyuman di wajah kalian. Untuk saudaraku tercinta Ado atas kebersamaan yang selama ini kami jalani dan lakoni bersama. DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin, Ridwan. Epidemiologi Perencanaan dan Pelayanan Kesehatan. Makassar : FKM-UH. 2004. Anonim. Kajian Kematian Ibu, Kematian Anak, dan Status Gizi di Indonesia. Internet, http://surkesnas.litbang.depkes.go.id/. Diakses tanggal 14 November 2006.
Anonim, Tentang Raskin. Internet, http://www.bulog.go.id/. Diakses tanggal 18 Februari 2007. Anonim, Masalah Kesehatan Wanita. Internet, http://www.medicastore.com/. Diakses tanggal 20 Februari 2007.
Anonim, Setiap jam 2 orang Ibu Bersalin Meninggal Dunia. Internet, http://www.depkes.go.id/. Diakses tanggal 21 Februari 2007. Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. Indikator Kesejahteraan Rakyat Sulawesi Selatan tahun 2004. Makassar : BPS Provinsi Sulawesi Selatan. 2004.
Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Selatan. Indikator Sosial Ekonomi Sulawesi Selatan tahun 2005. Makassar : BPS Provinsi Sulawesi Selatan. 2005. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai. Kecamatan Sinjai Borong dalam Angka tahun 2005/2006. Sinjai : BPS Kab. Sinjai. 2006.
Bakosurtanal, Sistem Informasi Spasial Nasional (SISN). Internet, http://202.155.86.41/kpk/pp10/pp10.htm.%20November%2020066. Bangsu, Tamrin. Dukun Bayi Sebagai Pilihan Utama Tenaga Penolong Persalinan. Jurnal Penelitian UNIB, Vol. VII, No. 2, Juli 2001, Hal. 104-109. Diakses tanggal 26 September 2006.
Chandra, Budiman. Pengantar Statistik Kesehatan. Jakarta : EGC. 1995. Covey, Stephen R. 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif (alih bahasa). Jakarta : Binarupa Aksara. 2001.
Maas, Linda T. Kesehatan Ibu dan Anak : Persepsi Budaya dan Dampak Kesehatannya. USU Digital Library. 2004. Diakses tanggal 21 September 2006.Manuaba, Ida Bagus Gde. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta : Arcan. 1999. Nasution, Syamsul Arifin. Gambar Penanganan Kasus Kedaruratan Obstetri di RSU Tanjung Pura Kab. Langkat dan RSU Kisaran Kab. Asahan. USU Digital Library. 2003. Diakses tanggal 1 Februari 2007.
Notoatmodjo, Soekidjo. Ilmu Kesehatan Masyarakat, Prinsip-prinsip Dasar. Jakarta : Rineka Cipta. 2003. Notoatmodjo, Soekidjo. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta. 2005.
Santoso, Slamet I. Pendidikan di Indonesia Dari Masa ke Masa. Jakarta : CV Haji Masagung. 1987. Suprapto, Agus. Determinan Sosial Ekonomi Pertolongan Persalinan. Internet, http://digilib.litbang.depkes.go.id/. Diakses tanggal 26 September 2006.
Suprapto, Agus. Pola Pertolongan Persalinan 5 Tahun Terakhir Hubungannya dengan Faktor Sosial Ekonomi Di Indonesia. Internet, http://digilib.litbang.depkes.go.id/. Diakses tanggal 26 September 2006.
Prisandi, Riza Tegar. Quran Version of 7 Habits of Highly Effective People. Internet. Diakses tanggal 23 Januari 2007. Outlook Volume 16 Edisi khusus. Keselamatan Ibu : Keberhasilan dan Tantangan. Januari 1999. Diakses tanggal 3 Januari 2007.
Make a Comment
Make A Comment: ( 1 so far )
You must be logged in to post a comment.
One Response to “Pemilihan tenaga penolong persalinan di Borong Sinjai”
Comments RSS Feed
[...] Januari 24, 2008 · No Comments HASIL PENELITIAN Penelitian menunjukkan bahwa keberadaan dukun bayi sebagai tenaga penolong persalinan tidak dapat dinafikkan. Pencapaian penolong persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Borong Kompleks masih jauh dari target nasional yang diharapkan pada tahun 2000 dimana cakupan penolong persalinan oleh nakes seharusnya mencapai 80 %. Wawancara dilakukan terhadap 140 responden yang terbagi pada tiap-tiap desa di Kecamatan Sinjai Borong. Dari 140 sampel tersebut, 91 orang atau sebesar 65 % melakukan persalinan dengan bantuan tenaga kesehatan dan 49 orang lainnya (35 %) memilih tenaga non-kesehatan sebagai penolong persalinan. Dari 91 orang yang memilih tenaga kesehatan, 4 orang ditolong oleh dokter, 58 orang ditolong oleh bidan, dan sisanya 29 orang ditolong oleh dukun terlatih. Sedangkan dari 49 orang yang ditolong persalinannya oleh tenaga non kesehatan, 26 orang ditolong oleh dukun tidak terlatih, 16 orang ditolong oleh keluarga, 5 orang ditolong oleh ibu kandung, dan 2 orang ditolong oleh nenek.selengkapnya [...]
PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN « Rofiqahmad’s WeblogJanuary 24, 2008
Where's The Comment Form?
About
“Smart and Visioner For Nation Health”
RSS
Complete Feed
Comments
Subscribe Via RSS







Meta
bergantinya siang dan malam adalah tanda kebesaran Ilahi
May 2007
M
T
W
T
F
S
S
« Apr

Jun »

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

pilih kategori Select Category Al Quran (1) Anouncement (14) artikel ilmiah (57) artikel populer (6) Buku (3) Current Issue (1) cv ku (2) disertasi (2) epid perencanaan (11) epidemiologi kontemporer (16) epidemiologi pelayanan kesehatan (3) essay (2) fetp unhas (1) FKM UNHAS (3) foto (1) fungsional epidemiologi (1) genetik (3) griffith (1) Griffith class (2) home (1) ielts (2) inferensi kausal (4) info sehat (1) jalan jalan (1) jen (1) kampusiana (1) Konferensi & Konas (2) lectures (1) mutu rs (1) Prinsip Epid (2) reportase (1) reportase fkm (1) sains (2) surveilens (3) technorati (1) Uncategorized (31) who (1)
/* 0 ) {
location.href = "http://ridwanamiruddin.wordpress.com/?cat="+dropdown.options[dropdown.selectedIndex].value;
}
}
dropdown.onchange = onCatChange;
/* ]]> */

tulisan teratas
Evidence base Epidemiologi anemia deficiensi zat besi pada ibu hamil di Indonesia
Studi kasus kontrol Anemia Ibu hamil (Jurnal Medika Unhas)
Hipertensi dan faktor risikonya dalam kajian epidemiologi
TUMBUH KEMBANG ANAK
Current Issue Kematian Anak karena Penyakit Diare
Capaian Kesehatan Indonesia
Konsep baru paradigma kesehatan ( Bab 3; epid perencanaan; edited)
susu formula menghambat pemberian asi ekslusif
komentar kamu

Ridwan Amiruddin on Salam sahabat

Ridwan Amiruddin on Salam sahabat

che11 on Salam sahabat

Ridwan Amiruddin on POLONIUM-210 HIDDEN IN CIGARET…

phibee on Capaian Kesehatan Indones…

phibee on BAB V. IDENTIFIKASI MASALAH…
penulis
Ridwan Amiruddin
visitor
219,453 hits
"beri komentar"
Salam sahabat

Kamis, 16 Oktober 2008

materi mantri

STUDI KEPUSTAKAAN/MENYUSUN KERANGKA TEORITIS, HIPOTESIS PENELITIAN, DAN JENIS PENELITIAN
Oleh :
Dr. Hj. Dewi L. Badriah, M.Kes.

Kemampuan peneliti untuk menyusun kerangka teoritis akan sangat terkait dengan upaya penelusuran studi kepustakaan, sebagai upaya memperoleh sejumlah referensi yang mendukung dan tepat untuk membahas lingkup kajian penelitian yang dilakukan. Selanjutnya kerangka teoritis yang disusun akan bermanfaat pada saat peneliti menentukan hipotesis penelitian.

1. Studi Kepustakaan
Setelah seorang peneliti telah menetapkan topik penelitian, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan: teori yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam pencarian teori, peneliti akan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan. Sumber-sumber kepustakaan dapat diperoleh dari: buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian (tesis dan disertasi), dan sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet, koran dll). Keseluruhan upaya tersebut, dikatakan sebagai upaya Studi Kepustakaan untuk penelitian.
Istilah studi kepustakaan digunakan dalam ragam istilah oleh para ahli, diantaranya yang dikenal adalah: kajian pustaka, tinjauan pustaka, kajian teoritis, dan tinjuan teoritis. Penggunaan istilah-istilah tersebut, pada dasarnya merujuk pada upaya umum yang harus dilalui untuk mendapatkan teori-teori yang relevan dengan topik penelitian. Bila kita telah memperoleh kepustakaan yang relevan, maka segera untuk disusun secara teratur untuk dipergunakan dalam penelitian. Oleh karena itu studi kepustakaan meliputi proses umum seperti: mengidentifikasikan teori secara sistematis, penemuan pustaka, dan analisis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian.
Studi kepustakaan mempunyai beberapa fungsi, meliputi:
1. Menyediakan kerangka konsepsi atau teori untuk penelitian yang direncanakan.
2. Menyediakan informasi tentang penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan.
3. Memberi rasa percaya diri bagi peneliti, karena melalui kajian pustaka semua konstruksi yang berhubungan dengan penelitian telah tersedia.
4. Memberi informasi tentang metode-metode, populasi dan sampel, instrumen, dan analisis data yang digunakan pada penelitian yang dilakukan sebelumnya.
5. Menyediakan temuan, kesimpulan penelitian yang dihubungkan dengan penemuan dan kesimpulan kita.
Studi kepustakaan dari sumbernya dibedakan menjadi dua bagian yaitu: kepustakaan konseptual dan kepustakaan penelitian. Kepustakaan konseptual meliputi konsep-konsep atau teori-teori yang ada pada buku-buku dan artikel yang ditulis oleh para ahli yang dalam penyampaiannya sangat ditentukan oleh ide-ide atau pengalaman para ahli tersebut. Sebaliknya kepustakaan penelitian meliputi laporan penelitian yang telah diterbitkan baik pada jurnal maupun majalah ilmiah.
Bagi para pemula disarankan untuk menggunakan studi kepustakaan yang berasal dari kepustakaan konseptual, untuk lebih memudahkan dalam merangkum dan mengkategorikan teori, sesuai dengan kebutuhan pada saat akan membuat kerangka konseptual.
Didasarkan pada hal tersebut di atas, maka ada beberapa strategi dalam menyampaikan studi kepustakaan:
1. Ungkapkan kajian pustaka yang benar-benar terkait erat dengan variabel penelitian.
2. Ungkapkan kajian pustaka dengan urutan dari mulai paparan variabel bebas sampai dengan variabel terikat atau ungkapkan dari variabel yang cakupannya umum dan luas ke arah variabel yang spesifik. Tentu saja secara luas dan nampak saling menyapa antar paparan variabel tersebut dan bukan merupakan kumpulan kutipan sehingga tidak menjadi suatu pola pemikiran yang menyeluruh.
3. Dapat diungkapkan hal-hal yang berkaitan dengan karakteristik sampel dan demografinya, bila memang dibutuhkan.

2. Kerangka Konsep
Penentuan kerangka konseptual oleh peneliti akan sangat membantu dalam menentukan arah kebijakan dalam pelaksanaan penelitian. Kerangka konseptual merupakan kerangka fikir mengenai hubungan antar variabel-variabel yang terlibat dalam penelitian atau hubungan antar konsep dengan konsep lainnya dari masalah yang diteliti sesuai dengan apa yang telah diuraikan pada studi kepustakaan.
Konsep dalam hal ini adalah suatu abstraksi atau gambaran yang dibangun dengan menggeneralisasikan suatu pengertian. Oleh karena itu, konsep tidak dapat diamati dan diukur secara langsung. Agar supaya konsep tersebut dapat diamati dan diukur, maka konsep tersebut harus dijabarkan terlebih dahulu menjadi variabel-variabel.
Dengan adanya kerangka konseptual akan bermanfaat bagi:
a. Minat penelitian akan lebih terfokus ke dalam bentuk yang layak diuji dan akan memudahkan penyusunan hipotesis.
b. Memudahkan identifikasi fungsi variabel penelitian, baik sebagai variabel bebas, tergantung, kendali, dan variabel lainnya.
Contoh “pendidikan” adalah konsep. Agar dapat diukur maka dijabarkan dalam bentuk variabel, misalnya “tingkat pendidikan atau jenis pendidikan”. “Ekonomi keluarga” adalah konsep, maka diubah menjadi variabel “tingkat penghasilan”. Kedua konsep tersebut dapat disebut sebagai variabel bebas. Sedangkan konsep lainnya dapat disebut sebagai variabel terikat, misalnya perilaku membuang sampah. Konsep-konsep tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Tingkat pendidikan
Tingkat penghasilan
Perilaku membuang sampah
Gambar 1. Interkorelasi konsep
Cara yang terbaik untuk mengembangkan kerangka konseptual tentu saja harus memperkaya asumsi-asumsi dasar yang berasal dari bahan-bahan referensi yang digunakan. Hal ini dapat diperkuat dengan mengadakan amatan-amatan langsung pada lingkup area masalah yang akan dijadikan penelitian. Dengan demikian kerangka konseptual yang dibuat merupakan paduan yang harmonis antara hasil pemikiran dari konsep-konsep (deduksi) dan hasil empirikal (induksi).
Pola berpikir deduksi adalah proses logika yang berdasar dari kebenaran umum mengenai suatu fenomena (teori) dan menggeneralisasikan kebenaran tersebut pada suatu peristiwa atau data tertentu yang berciri sama dengan fenomena yang bersangkutan. Pola pikir induksi adalah proses logika yang berangkat dari data empirik lewat observasi menuju kepada suatu teori. Dengan kata lain induksi adalah proses mengorganisasikan fakta-fakta atau hasil-hasil pengamatan yang terpisah menjadi suatu rangkuman hubungan atau suatu generalisasi.

3. Merumuskan Hipotesis
3.1 Pengertian hipotesis
Menyusun landasan teori juga merupakan langkah penting untuk membangun suatu hipotesis. Landasan teori yang dipilih haruslah sesuai dengan ruang lingkup permasalahan. Landasan teoritis ini akan menjadi suatu asumsi dasar peneliti dan sangat berguna pada saat menentukan suatu hipotesis penelitian.
Peneliti harus selalu bersikap terbuka terhadap fakta dan kesimpulan terdahulu baik yang memperkuat maupun yang bertentangan dengan prediksinya. Jadi, dalam hal ini telaah teoritik dan temuan penelitian yang relevan berfungsi menjelaskan permasalahan dan menegakkan prediksi akan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa hipotesis penelitian dapat dirumuskan melalui jalur:
1. Membaca dan menelaah ulang (reviu) teori dan konsep-konsep yang membahas variabel-variabel penelitian dan hubungannya dengan proses berfikir deduktif.
2. Membaca dan mereviu temuan-temuan penelitian terdahulu yang relevan dengan permasalahan penelitian lewat berfikir induktif.
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya harus diuji secara empiris. Hipotesis menyatakan hubungan apa yang kita cari atau ingin kita pelajari. Hipotesis adalah keterangan sementara dari hubungan fenomena-fenomena yang kompleks. Oleh karena itu, perumusan hipotesis menjadi sangat penting dalam sebuah penelitian.

3.2 Manfaat Hipotesis
Penetapan hipotesis dalam sebuah penelitian memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian dan kerja penelitian.
2. Mensiagakan peneliti kepada kondisi fakta dan hubungan antar fakta, yang kadangkala hilang begitu saja dari perhatian peneliti.
3. Sebagai alat yang sederhana dalam memfokuskan fakta yang bercerai-berai tanpa koordinasi ke dalam suatu kesatuan penting dan menyeluruh.
4. Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta dan antar fakta.
Oleh karena itu kualitas manfaat dari hipotesis tersebut akan sangat tergantung pada:
1. Pengamatan yang tajam dari si peneliti terhadap fakta-fakta yang ada.
2. Imajinasi dan pemikiran kreativ dari si peneliti.
3. Kerangka analisa yang digunakan oleh si peneliti.
4. Metode dan desain penelitian yang dipilih oleh peneliti.

3.3 Ciri hipotesis yang baik
Perumusan hipotesis yang baik dan benar harus memenuhi ciri-ciri sebagai berikut:
1. Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan deklaratif, bukan kalimat pertanyaan.
2. Hipotesis berisi penyataan mengenai hubungan antar paling sedikit dua variabel penelitian.
3. Hipotesis harus sesuai dengan fakta dan dapat menerangkan fakta.
4. Hipotesis harus dapat diuji (testable). Hipotesis dapat duji secara spesifik menunjukkan bagaimana variabel-variabel penelitian itu diukur dan bagaimana prediksi hubungan atau pengaruh antar variabel termaksud.
5. Hipotesis harus sederhana (spesifik) dan terbatas, agar tidak terjadi kesalahpahaman pengertian.
Beberapa contoh hipotesis penelitian yang memenuhi kriteria yang tersebut di atas:
1. Olahraga teratur dengan dosis rendah selama 2 bulan dapat menurunkan kadar gula darah secara signifikan pada pasien IDDM.
2. Pemberian tambahan susu sebanyak 3 gelas per hari pada bayi umur 3 bulan meningkatkan berat badan secara signifikan.


3.4 Menggali hipotesis
Didasarkan pada paparan di atas, maka tentu saja merumuskan hipotesis bukan pekerjaan mudah bagi peneliti. Oleh karena itu seorang peneliti dituntut untuk dapat menggali sumber-sumber hipotesis. Untuk itu dipersyaratkan bagi peneliti harus:
1. Memiliki banyak informasi tentang masalah yang akan dipecahkan dengan cara banyak membaca literatur yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan.
2. Memiliki kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat, objek, dan hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki.
3. Memiliki kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan yang lain yang sesuai dengan kerangka teori dan bidang ilmu yang bersangkutan.
Dari beberapa pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa penggalian sumber-sumber hipotesis dapat berasal dari:
1. Ilmu pengetahuan dan pengertian yang mendalam yang berkaitan dengan fenomena.
2. Wawasan dan pengertian yang mendalam tentang suatu fenomena.
3. Materi bacaan dan literatur yang valid.
4. Pengalaman individu sebagai suatu reaksi terhadap fenomena.
5. Data empiris yang tersedia.
6. Analogi atau kesamaan dan adakalanya menggunakan imajinasi yang berdasar pada fenomena.
Hambatan atau kesulitan dalam merumuskan hipotesis lebih banyak disebabkan karena hal-hal:
1. Tidak adanya kerangka teori atau tidak ada pengetahuan tentang kerangka teori yang jelas.
2. Kurangnya kemampuan peneliti untuk menggunakan kerangka teori yang ada.
3. Gagal berkenalan dengan teknik-teknik penelitian yang ada untuk merumuskan kata-kata dalam membuat hipotesis secara benar.

3.5 Jenis-jenis Hipotesis
Penetapan hipotesis tentu didasarkan pada luas dan dalamnya serta mempertimbangkan sifat dari masalah penelitian. Oleh karena itu, hipotesispun bermacam-macam, ada yang didekati dengan cara pandang: sifat, analisis, dan tingkat kesenjangan yang mungkin muncul pada saat penetapan hipotesis.
3.5.1 Hipotesis dua-arah dan hipotesis satu-arah
Hipotesis penelitian dapat berupa hipotesis dua-arah dan dapat pula berupa hipotesis satu-arah. Kedua macam tersebut dapat berisi pernyataan mengenai adanya perbedaan atau adanya hubungan.
Contoh hipotesis dua arah:
1. Ada perbedaan tingkat peningkatan berat badan bayi antara bayi yang memperoleh susu tambah 3 gelas dari ibu yang berperan ganda dan tidak berperan ganda.
2. Ada hubungan antara tingkat kecemasan dengan prestasi belajar siswa.
Hipotesis dua-arah memang kurang spesifik, oleh karena itu perlu diformulasikan dalam hipotesis satu-arah. Contoh:
1. Terdapat perbedaan peningkatan berat badan bayi yang signifikan antara bayi yang memperoleh susu tambah 3 gelas dari ibu yang berperan ganda dan tidak berperan ganda.
2. Ada hubungan yang cukup kuat antara tingkat kecemasan siswa dengan prestasi belajar siswa.
3.5.2 Hipotesis Statistik
Rumusan hipotesis penelitian, pada saatnya akan diuji dengan menggunakan metode statistik, perlu diterjemahkan dalam bentuk simbolik. Simbol-simbol yang digunakan dalam rumusan hipotesis statistik adalah simbol-simbol parameter. Parameter adalah besaran-besaran yang apa pada populasi.
Sebagai contoh, hipotesis penelitian yang menyatakan adanya perbedaan usia menarche yang berarti antara siswi SMU I dan SMU II. Hal ini mengandung arti bahwa terdapat perbedaan rata-rata usia menarche antara siswi dari kedua sekolah tersebut. Dalam statistika, rata-rata berarti mean yang mempunyai simbol M, sedangkan parameter mean bagi populasi adalah m. Oleh karena itu, simbolisasi hipotesis tersebut adalah:
Ha; m1≠ m2 (Hipotesis dua-arah) (kurang spesifik)
Ha: m1 > m2 (Hipotesis satu-arah) (tepat dan spesifik)
Atau

Ha; m1- m2 ≠ 0 (Hipotesis dua-arah)
Ha: m1 - m2 > 0 (Hipotesis satu-arah) IDM
Dengan demikian simbol Ha berarti hipotesis alternatif, yaitu penerjemahan hipotesis penelitian secara operasional. Hipotesis alternatif disebut juga hipotesis kerja. Jadi, statistik sendiri digunakan tidak untuk langsung menguji hipotesis alternatif, akan tetapi digunakan untuk menolak atau menerima hipotesis nihil (nol). Penerimaan atau penolakan hipotesis alternatif merupakan konsekuensi dari penolakan atau penerimaan hipotesis nihil.
Hipotesis nihil atau null hypothesis atau Ho adalah hipotesis yang meniadakan perbedaan antar kelompok atau meniadakan hubungan sebab akibat antar variabel. Hipotesis nihil berisi deklarasi yang meniadakan perbedaan atau hubungan antar variabel. Contoh dari hipotesis nol secara statistik adalah:
Ho; m1- m2 = 0 (Hipotesis dua-arah)
Ho: m1= m2= 0 (Hipotesis satu-arah)
Pada akhirnya penolakan terhadap hipotesis nihil akan membawa kepada penerimaan hipotesis alternatif, sedangkan penerimaan terhadap hipotesis nihil akan meniadakan hipotesis alternatif.

3.6 Kesalahan dalam perumusan hipotesis dan pengujian hipotesis
Dalam perumusan hipotesis dapat saja terjadi kesalahan. Macam kesalahan dalam perumusan hipotesis ada dua macam yaitu:
a. Menolak hipotesis nihil yang seharusnya diterima, maka disebut kesalahan alpha dan diberi simbol a atau dikenal dengan taraf signifikansi pengukuran.
b. Menerima hipotesis nihil yang seharusnya ditolak, maka disebut kesalahan beta dan diberi simbol b.
Pada umumnya penelitian di bidang pendidikan digunakan taraf signifikansi 0.05 atau 0.01, sedangkan untuk penelitian kedokteran dan farmasi yang resikonya berkaitan dengan nyawa manusia, diambil taraf signifikansi 0.005 atau 0.001 bahkan mungkin 0.0001. Misalnya saja ditentukan taraf signifikansi 5% maka apabila kesimpulan yang diperoleh diterapkan pada populasi 100 orang, maka akan tepat untuk 95 orang dan 5 orang lainnya terjadi penyimpangan.
Cara pengujian hipotesis didekati dengan penggunaan kurva normal. Penentuan harga untuk uji hipotesis dapat berasal dari Z-score ataupun T-score. Apabila harga Z-score atau T-score terletak di daerah penerimaan Ho, maka Ha yang dirumuskan tidak diterima dan sebaliknya.

4. Jenis Penelitian
Jenis-jenis penelitian sangat beragam macamnya, disesuaikan dengan cara pandang dan dasar keilmuan yang dimiliki oleh para pakar dalam memberikan klasifikasi akan jenis penelitian yang diungkapkan. Namun demikian, jenis penelitian secara umum dapat digolongkan sebagaimana yang akan dipaparkan berikut ini.

4.1. Jenis Penelitian Menurut Pendekatan Analitik
Dilihat dari pendekatan analisisnya, penelitian dibagi menjadi dua macam, yaitu: penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.
4.1.1 Jenis penelitian kuantitatif
Penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka-angka) yang diolah dengan metoda statistik. Pada dasarnya pendekatan kuantitatif dilakukan pada jenis penelitian inferensial dan menyandarkan kesimpulan hasil penelitian pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil. Dengan metoda kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan antar variabel yang diteliti. Pada umumnya, penelitian kuantitaif merupakan penelitian dengan jumlah sampel besar.
Bila disederhanakan penelitian berdasarkan pendekatan kuantitatif secara mendalam dibagi menjadi: penelitian deskriptif dan penelitian inferensial.
a. Penelitian deskriptif
Penelitian deskriptif melakukan analisis hanya sampai taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan data secara sistematik, sehingga dapat lebih mudah untuk difahami dan disimpulkan. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu. Analisis yang sering digunakan adalah: analisis persentase dan analisis kecenderungan. Kesimpulan yang dihasilkan tidak bersifat umum. Jenis penelitian deskriptif yang cukup dikenal adalah penelitian survei.
b. Penelitian inferensial
Penelitian inferensial melakukan analisis hubungan antar variabel dengan pengujian hipotesis. Dengan demikian, kesimpulan penelitian jauh melebihi sajian data kuantitatif saja, dan kesimpulannya adakalanya bersifat umum.
4.1.2 Jenis penelitian menurut pendekatan kualitatif
Penelitian dengan pendekatan kualitatif pada umumnya menekankan analisis proses dari proses berfikir secara deduktif dan induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dan senantiasa menggunakan logika ilmiah. Penelitian kualitatif tidak berarti tanpa menggunakan dukungan dari data kuantitatif, akan tetapi lebih ditekankan pada kedalaman berfikir formal dari peneliti dalam menjawab permasalahan yang dihadapi.
Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengembangkan konsep sensitivitas pada masalah yang dihadapi, menerangkan realitas yang berkaitan dengan penelusuran teori dari bawah (grounded theory), dan mengembangkan pemahaman akan satu atau lebih dari fenomena yang dihadapi.

4.2 Jenis Penelitian Menurut Tujuan
Jenis penelitian menurut tujuan terdiri dari:
4.2.1 Penelitian Eksploratif
Jenis penelitian eksploratif, adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru itu dapat saja berupa pengelompokkan suatu gejala, fakta, dan penyakit tertentu. Penelitian ini banyak memakan waktu dan biaya.
4.2.2 Penelitian Pengembangan
Jenis penelitian pengembangan bertujuan untuk mengembangkan aspek ilmu pengetahuan. Misalnya: penelitian yang meneliti tentang pemanfaatan terapi gen untuk penyakit-penyakit menurun.
4.2.3 Penelitian Verifikatif
Jenis penelitian ini bertujuan untuk menguji kebenaran suatu fenomena. Misalnya saja, masyarakat mempercayai bahwa air sumur Pak Daryan mampu mengobati penyakit mata dan kulit. Fenomena ini harus dibuktikan secara klinik dan farmakologik, apakah memang air tersebut mengandung zat kimia yang dapat menyembuhkan penyakit mata.

4.3 Jenis Penelitian Menurut Waktu
4.3.1 Penelitian Longitudinal
Penelitian longitudinal adalah penelitian yang dilakukan dengan ciri: waktu penelitian lama, memerlukan biaya yang relatif besar, dan melibatkan populasi yang mendiami wilayah tertentu, dan dipusatkan pada perubahan variabel amatan dari waktu ke waktu. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mempelajari pola dan urutan perkembangan dan/atau perubahan sesuatu hal, sejalan dengan berlangsungnya perubahan waktu. Jenis penelitian ini sering digunakan pada penelitian lingkup Epidemiologi dengan beberapa rancangan yang khas, seperti kohort, cross-sectional, dan kasus kontrol.
a. Kohort
Penelitian kohort sering juga disebut penelitian follow up atau penelitian insidensi, yang dimulai dengan sekelompok orang (kohor) yang bebas dari penyakit, yang diklasifikasikan ke dalam sub-kelompok tertentu sesuai dengan paparan terhadap sebuah penyebab potensial terjadinya penyakit atau outcome.
Penelitian kohort memberikan informasi terbaik tentang penyebab penyakit dan pengukurannya yang paling langsung tentang resiko timbulnya penyakit. Jadi ciri umum penelitian kohort adalah:
a. dimulai dari pemilihan subyek berdasarkan status paparan.
b. melakukan pencatatan terhadap perkembangan subyek dalam kelompok studi amatan.
c. dimungkinkan penghitungan laju insidensi (ID) dari masing-masing kelompok studi.
d. peneliti hanya mengamati dan mencatat paparan dan penyakit dan tidak dengan sengaja mengalokasikan paparan.
Oleh karena penelitian kohort diikuti dalam suatu periode tertentu, maka rancangannya dapat bersifat restropektif dan prospektif, tergantung pada kapan terjadinya paparan pada saat peneliti mau mengadakan penelitian.
Rancangan penelitian kohort prospektif, jika paparan sedang atau akan berlangsung, pada saat penelitian memulai penelitiannya. Rancangan kohort retrospektif, jika paparan telah terjadi sebelum peneliti memulai penelitiannya. Jenis penelitian ini sering disebut sebagai penelitian prospektif historik.
b. Penelitian cross-sectional (Lintas-Bagian)
Penelitian lintas-bagian adalah penelitian yang mengukur prevalensi penyakit. Oleh karena itu seringkali disebut sebagai penelitian prevalensi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan penyakit dengan paparan dengan cara mengamati status paparan dan penyakit secara serentak pada individu dari populasi tunggal pada satu saat atau periode tertentu.
Penelitian lintas-bagian relatif lebih mudah dan murah untuk dikerjakan oleh peneliti dan amat berguna bagi penemuan pemapar yang terikat erat pada karakteristik masing-masing individu. Data yang berasal dari penelitian ini bermanfaat untuk: menaksir besarnya kebutuhan di bidang pelayanan kesehatan dari populasi tersebut. Instrumen yang sering digunakan untuk memperoleh data dilakukan melalui: survei, wawancara, dan isian kuisioner.
c. Penelitian Kasus Kontrol (case control)
Penelitian kasus kontrol adalah rancangan epidemiologis yang mempelajari hubungan antara paparan (amatan penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Ciri penelitian ini adalah: pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayar terpapar atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dari populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut Kontrol.

4.4 Jenis Penelitian Menurut Rancangan
Ada beberapa jenis penelitian yang didasarkan pada rancangan yang digunakan untuk memperoleh data, misalnya penelitian korelasional, kausal-komparatif, eksperimen, dan penelitian tindakan (action research).
4.4.1 Penelitian Korelasional (correlational research)
Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.
Contoh penelitian korelasional yang umum dilakukan:
a. Studi yang mempelajari hubungan antara skor pada test masuk perguruan tinggi dengan indeks prestasi semester pada mahasiswa STIKes di Wilayah Jawa Barat.
b. Studi analisis faktor mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan, pendidikan, dan status sosial dengan pemilihan jenis persalinan di desa tertinggal.


4.4.2 Penelitian Kausal-Komparatif (causal-comparative research)
Tujuan penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.
Penelitian kausal-komperatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat sebagai “dependent variable” dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.
4.4.3 Penelitian Eksperimental-Sungguhan (true-experimental research)
Tujuan penelitian eksperimental sungguhan adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental dengan satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.
Ciri utama dari penelitian eksperimen meliputi:
a. Pengaturan variabel-variabel dan kondisi-kondisi eksperimental secara tertib-ketat, baik dengan kontrol atau manipulasi langsung maupun dengan randomisasi (pengaturan secara rambang).
b. Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai “garis dasar” untuk dibandingkan dengan kelompok (kelompok-kelompok) yang dikenai perlakuan eksperimental.
c. Memusatkan usaha pada pengontrolan varians dengan cara: pemilihan subyek secara acak, penempatan subyek dalam kelompok-kelompok secara rambang, dan penentuan perlakuan eksperimental kepada kelompok secara rambang.
d. Validitas internal merupakan tujuan pertama metode eksperimental.
e. Tujuan ke dua metode eksperimental adalah validitas eksternal.
f. Dalam rancangan eksperimental yang klasik, semua variabel penting diusahakan agar konstan kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
4.4.4 Penelitian Eksperimental-Semu (quasi-experimental research)
Tujuan penelitian eksperimental-semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti kompromi apa yang ada pada validitas internal dan validiti eksternal rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.
Ciri penelitian eksperimen semu meliputi:
a. Penelitian eksperimental-semu secara khas mengenai keadaan praktis, yang di dalamnya adalah tidak mungkin untuk mengontrol semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabel tersebut.
b. Subyek penelitian adalah manusia, misalnya dalam mengukur aspek minat, sikap, dan perilaku.
c. Tetap dilakukan randomisasi untuk sampel, sehingga validitas internal masih dapat dijaga.
4.4.5 Penelitian Tindakan (action research)
Penelitian tindakan bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain.
Contoh penelitian tindakan misalnya adalah:
a. Penelitian tentang pelaksanaan suatu program inservice training untuk melatih para konselor bekerja dengan anak putus sekolah;
b. Penelitian untuk menyusun program penjajagan dalam pencegahan kecelakaan pada pendidikan pengemudi;
c. Penelitian untuk memecahkan masalah apatisme dalam penggunaan teknologi modern atau metode menanam padi yang inovatif.
Ciri penelitian tindakan adalah:
a. Praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja.
b. Menyediakan rangka-kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan baru.
c. Penelitian mendasarkan diri kepada observasi aktual dan data mengenai tingkah laku, dan tidak berdasar pada pendapat subyektif yang didasarkan pada pengalaman masa lampau.
d. Fleksibel dan adaptif, membolehkan perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on-the spot experimentation dan inovasi.

Pengaruh Teknik Relaksasi Bernafas Terhadap Respon Adaptasi Nyeri Pada Pasien Inpartu Kala I

Posted May 6th, 2008 by nyongRivalKedokteran abstraks:
Setiap tahun lebih dari 200 juta wanita hamil. Sebagian besar kehamilan berakhir dengan kelahiran bayi hidup pada ibu yang sehat walaupun demikian, pada beberapa kasus kelahiran bukanlah peristiwa membahagiakan tetapi menjadi suatu masa yang penuh dengan rasa nyeri, rasa takut, penderitaan dan bahkan kematian (WHO, 2003).Rasa nyeri pada persalinan dalam halini adalah nyeri kontraksi uterus yang dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, peruabahan tekanan darah, denyut jantung, pernafasan dengan warna kulit dan apabila tidak segera diatas I maka akan meningkatkan rasa khawatir, tegang, takut dan stress (Bobak, 2004).Nyeri persalinan dapat mempengaruhi kontraksi uterus melalui sekresi kadar katekolamia dan kartisol yang menaikkan dan akibatnya mempengaruhi durasi persalinan. Nyeri juga dapat menyebabkan aktivitas uterus yang tidak terkoordinasi yang akan mengakibatkan persalinan lama. Adapun nyeri persalinan yang berat dan lama dapat mempengharuhi sverifikasi sirkulasi maupun metabolisme yang harus segera diatasi karma dapat menyebabkan kematian gania (Rosemary Mander, 2003).
BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangPembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 bertujuan meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal melaluiu tercitpanya masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia yang ditandai oleh penduduk yang hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seuruh wilayah Republik Indonesia.Berdasarkan tujuan pembangunan kesehatan nasional tersebut maka pemerataan dan pelayanan kesehatan perlu terus-menerus diupayakan dalam rangka mempertahankan status kesehatan masyarakat melalui pemcegahan dan pengurangan morbilitas, mortalitas dan kecacatan daam masyarakat terutama bayi, anak balita dan wanita hamil, melahirkan dan masa nifas (Depkes RI, Indonesia sehat 2010).Setiap tahun lebih dari 200 juta wanita hamil. Sebagian besar kehamilan berakhir dengan kelahiran bayi hidup pada ibu yang sehat walaupun demikian, pada beberapa kasus kelahiran bukanlah peristiwa membahagiakan tetapi menjadi suatu masa yang penuh dengan rasa nyeri, rasa takut, penderitaan dan bahkan kematian (WHO, 2003).Rasa nyeri pada persalinan dalam halini adalah nyeri kontraksi uterus yang dapat mengakibatkan peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, peruabahan tekanan darah, denyut jantung, pernafasan dengan warna kulit dan apabila tidak segera diatas I maka akan meningkatkan rasa khawatir, tegang, takut dan stress (Bobak, 2004).Nyeri persalinan dapat mempengaruhi kontraksi uterus melalui sekresi kadar katekolamia dan kartisol yang menaikkan dan akibatnya mempengaruhi durasi persalinan. Nyeri juga dapat menyebabkan aktivitas uterus yang tidak terkoordinasi yang akan mengakibatkan persalinan lama. Adapun nyeri persalinan yang berat dan lama dapat mempengharuhi sverifikasi sirkulasi maupun metabolisme yang harus segera diatasi karma dapat menyebabkan kematian gania (Rosemary Mander, 2003).Intervensi untuk mengurangi ketidaknyamanan atau nyeri selama persalinan yaitu intervensi farmakologis nyeri non farmakologis perawat berperan besar dalam penanggulangan nyeri non farmakologis, yang salah satunya dengan menggunakan teknik relaksasi bernafas sesuai dengan teori Dick-Read dan Lamage bahwa nyeri persalinan yang disebabkan oleh rasa nyeri, takut dan tegang dapat dikurangi / diredakan dengan berbagai metode yaitu menaikkan pengetahuan ibu tentang hal-hal yang akan terjadi pada suatu persalinan, menaikkan kepercayaan diri dan relaksasi pernafasan (Bobak, 2004).Teknik relaksasi bernafas merupakan teknik pereda nyeri yang banyak memberikan masukkan terbesar karena teknik relaksasi dalam persalinan dapat mencegah kesalahan yang berlebihan pasca persalinan. Adapaun relaksasi bernafas selama proses persalinan dapat mempertahankan komponen sistem saraf simpatis (SSO) dalam keadaan homeostasis sehingga tidak terjadi peningkatan suplai darah, mengurangi kecemasan dan ketakutan agar ibu dapat beradaptasi demgam nyeri selama proses persalinan (Rosemary M, 2003).Berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh teknik relaksasi bernafas dan masase terhadap adaptasi nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif di RS…? Didapatkan bahwa teknik relaksasi bernafas mampu menaikkan adaptasi terhadap nyeri persalinan pada ibu inpartu kala I fase aktif yang berdasarkan pada hasil uji paired Ttist (Dwi Purnama, 2005).Menurut data dari RS…? Menunjukkan jumlah persalinan sebanyak…? Orang semakin meningkat jumlah persalinan maka tanggung jawab tenaga ksesehatan di tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin berat, khususnya bagaimana melaksanakan metode yang dapat membantu merasakan nyeri yang berarti. Namun fakta yang terjadi saat ini tempat-tempat pelayanan kesehatan dalam hal ini Puskesmas dan Rumah Sakit belum secara efektif melaksanakan intervensi Keperawatanmaternitas teknik relaksasi bernafas dalam penanganan nyeri persalinan, sehingga tidak diketahui secara pasti apakah memang benar ada pengaruh teknik relaksasi terhadap nyeri pada pasien inpartu kala I sesuai dengan referensi / teori yang ada.Dari uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “pengeruh teknik relaksasi bernafas terhadap respon adaptasi nyeri pada pasien inpartu kala I”.B. Rumusan MakalahBerdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah sebagai beikut :“Apakah ada pengaruh teknik relaksasi bernafas terhadap respon adaptasi nyeri pada pasien inpartu kala I ?”.C. Tujuan Penelitian1. Tujuan UmumDiperoleh gambaran tentang pengaruh teknik relaksasi bernafas terhadap respon adaptasi nyeri pada pasien inartu kala I.2. Tujuan Khususa. Teridentifikasi respon adaptasi nyeri fisiologis, psikologis dan sosial sebelum melakukan teknik relaksasi bernafas.b. Teridentifikasi respon adaptasi nyeri fisiologis, psikologis dan sosial setelah melakukan teknik relaksasi bernafas.c. Diketahui pengaruh teknik relaksasi bernafas terhadap respon adaptasi nyeri pasien inpartu kala I.D. Manfaat Penelitian1. Memberikan masukan bagi tempat pelayanan (Rumah sakit dan Puskesmas) khusus bagi perawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien tertentu.2. Dapat dimanfaatkan dalam rangka meningkatkan kualitas asuhan Keperawatanmaternitas di Rumah sakit.3. Memberikan masukan kepada profesi Keperawatantentang pentingya Keperawatanmaternitas pada pasien inpartu untuk menanggulangi nyeri persalinan.4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan ilmiah dan informasi bagi penelitian selanjutnya.http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/kedokteran/pengaruh-teknik-relaksasi-bernafas-terhadap-respon-adaptasi-nyeri-pada-pasien-inpartu-kala-i

Rabu, 15 Oktober 2008

IMD

PEMBERIAN ASI EKSLUSIF DAN FAKTOR-FAKTORYANG MEMPENGARUHINYA
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kesehatan merupakan salah satu aspek dari kehidupan masyarakat mutu hidup, produktifitas tenaga kerja, angka kesakitan dan kematian yang tinggi pada bayi dan anak-anak, menurunnya daya kerja fisik serta terganggunya perkembangan mental adalah akibat langsung atau tidak langsung dari masalah gizi kurang.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu masalah gizi yang paling utama pada saat ini di Indonesia adalah kurang kalori, protein hal ini banyak ditemukan bayi dan anak yang masih kecil dan sudah mendapat adik lagi yang sering disebut “kesundulan” artinya terdorong lagi oleh kepala adiknya yang telah muncul dilahirkan. Keadaan ini karena anak dan bayi merupakan golongan rentan. (3)
Terjadinya kerawanan gizi pada bayi disebabkan karena selain makanan yang kurnag juga karena Air Susu Ibu (ASI) banyak diganti dengan susu botol dengan cara dan jumlah yang tidak memenuhi kebutuhan. Hal ini pertanda adanya perubahan sosial dan budaya yang negatif dipandang dari segi gizi (1).
Pertumbuhan dan perkembangan bayi sebagian besar ditentukan oleh jumlah ASI yang diperoleh termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI tersebut. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan sampai usia sekitar empat bulan (5).
Setelah itu ASI hanya berfungsi sebagai sumber protein vitamin dan mineral utama untuk bayi yang mendapat makanan tambahan yang tertumpu pada beras. Dalam pembangunan bangsa, peningkatan kualitas manusia harus dimulai sedini mungkin yaitu sejak dini yaitu sejak masih bayi, salah satu faktor yang memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas manusia adalah pemberian Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI semaksimal mungkin merupakan kegiatan penting dalam pemeliharaan anak dan persiapan generasi penerus di masa depan. Akhir-akhir ini sering dibicarakan tentang peningkatan penggunaan ASI. Dukungan politis dari pemerintah terhadap peningkatan penggunaan ASI termasik ASI EKSLUSIF telah memadai, hal ini terbukti dengan telah dicanangkannya Gerakan Nasional Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu (GNPP-ASI) oleh Bapak Presiden pada hari Ibu tanggal 22 Desember 1990 yang betemakan “Dengan Asi, kaum ibu mempelopori peningkatan kualitas manusia Indonsia”. Dalam pidatonya presiden menyatakan juga bahwa ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berusia empat bulan. Pemberian ASI tanpa pemberiaan makanan lain ini disebut dengan menyusui secara ekslusif. Selanjutnya bayi perlu mendapatkan makanan pendamping ASI kemudian pemberian ASI di teruskan sampai anak berusia dua tahun (5)
ASI merupakan makanan yang bergizi sehingga tidak memerlukan tambahan komposisi. Disamping itu ASI mudah dicerna oleh bayi dan langsung terserap. Diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalam jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya secara penuh tanpa makanan tambahan. Selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama tiga bulan pertama (12) ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi tidak perlu diragukan lagi, namun akhir-akhir ini sangat disayangkan banyak diantara ibu-ibu meyusui melupakan keuntungan menyusui. Selama ini dengan membiarkan bayi terbiasa menyusu dari alat pengganti, padahal hanya sedikit bayi yang sebenarnya menggunakan susu botol atau susu formula. Kalau hal yang demikian terus berlangsung, tentunya hal ini merupakan ancaman yang serius terhadap upaya pelestarian dari peningkatan penggunaan ASI.
Hasil penelitian yang dilakukan di Biro Konsultasi Anak di Rumah Sakit UGM Yogyakarta tahun 1976 menunjukkan bahwa anak yang disusui sampai dengan satu tahun 50,6%. Sedangkan data dari survei Demografi Kesehatan Indonesia (SKDI) tahun 1991 bahwa ibu, yang memberikan ASI pada bayi 0-3 bulan yaitu 47% diperkotaan dan 55% dipedesaan (Depkes 1992) dari laporan SKDI tahun 1994 menunjukkan bahwa ibu-ibu yang memberikan ASI EKSLUSIF kepada bayinya mencapai 47%, sedangkan pada repelita VI ditargetkan 80%.(6)Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr.Moh. Efendi di R.S. Umum Dr. Kariadi Semarang tahun 1977 didapatkan pemberian ASI setelah umur 2 bulan 31,6%, ASI + Susu botol 15,8% dan susu botol 52,6%. Sedangkan sebelumnya yaitu pada umur 1 bulan masih lebih baik yaitu 66,7% ASI dan 33,3% susu botol, dalam hal ini tampaknya ada pengaruh susu botol lebih besar.(11)
Juga hasil penelitian Dr. Parma dkk di Rumah Sakit Umum Dr. M. Jamil Padang tahun 1978 -1979 di dapatkan bahwa lama pemberian ASI saja sampai 4-6 bulan pada ibu yang karyawan adalah 12,63% dan pada ibu rumah tangga sebanyak 21,27%. Apabila dilihat dari pendidikannya ternyata 75% dari ibu-ibu yang berpendidikan tamat SD telah memberikan makanan pendamping ASI yang terlalu dini pada bayi.
Berbagai alasan dikemukakan oleh ibu-ibu mengapa keliru dalam pemanfaatan ASI secara Eksklusif kepada bayinya, antara lain adalah produksi ASI kurang, kesulitan bayi dalam menghisap, keadaan puting susu ibu yang tidak menunjang, ibu bekerja, keinginan untuk disebut modern dan pengaruh iklan/promosi pengganti ASI dan tdak kalah pentingnya adalah anggapan bahwa semua orang sudah memiliki pengetahuan tentang manfaat ASI (2). 1.2. PERUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah bagaimana pemberian ASI secara ekslusif saai umur bayi 4 bulan dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi pemberian ASI Ekslusif.
1.3. TUJUAN PENULISAN
1.1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mengetahui pemberian ASI EKSLUSIF dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. 1.3.2. Tujuan Khusus. - Mengetahui cara pemberian ASI EKSLUSIF pada bayi. - Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI pada bayi usia 4 bulan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. PENGERTIAN AIR SUSU IBU
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam anorganik yang sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang berguna sebagai makanan bagi bayinya (10).
Sedangkan ASI Ekslusif adalah perilaku dimana hanya memberikan Air Susu Ibu (ASI) saja kepada bayi sampai umur 4 (empat) bulan tanpa makanan dan ataupun minuman lain kecuali sirup obat. (6).
ASI dalam jumlah cukup merupakan makanan terbaik pada bayi dan dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi selama 4 bulan pertama. ASI merupakan makanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal.
2.2. KEBAIKAN ASI DAN MENYUSUI.
ASI sebagai makanan bayi mempunyai kebaikan/sifat sebagai berikut:(9) - ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi.
- ASI mengadung laktosa yang lebih tinggi dibandingkan dengan susu buatan. Didalam usus laktosa akan dipermentasi menjadi asam laktat. yang bermanfaat untuk: * Menghambat pertumbuhan bakteri yang bersifat patogen. * Merangsang pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menghasilkan asam organik dan mensintesa beberapa jenis vitamin. * Memudahkan terjadinya pengendapan calsium-cassienat. * Memudahkan penyerahan herbagai jenis mineral, seperti calsium, magnesium. - ASI mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6 bulan pertama, seperti: Immunoglobin, Lysozyme, Complemen C3 dan C4, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus, Lactoferrin.
- ASI tidak mengandung beta-lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. - Proses pemberian ASI dapat menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayi. Selain memberikan kebaikan bagi bayi, menyusui dengan bayi juga dapat memberikan keuntungan bagi ibu, yaitu: (10)- Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan “kehidupan” kepada bayinya. - Hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan anak. - Dengan menyusui bagi rahim ibu akan berkontraksi yang dapat menyebabkan pengembalian keukuran sebelum hamil - Mempercepat berhentinya pendarahan post partum. - Dengan menyusui maka kesuburan ibu menjadi berkurang untuk beberpa bulan (menjarangkan kehamilan) - Mengurangi kemungkinan kanker payudara pada masa yang akan datang. 2.3 PRODUKSI ASI
Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang kelenjar Pictuitary Anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon utama yang mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses pengeluaran air susu juga tergantung pada Let Down Replex, dimana hisapan putting dapat merangsang kelenjar Pictuitary Posterior untuk menghasilkan hormon oksitolesin, yang dapat merangsang serabutotot halus di dalam dinding saluran susu agar membiarkan susu dapat mengalir secara lancar.(12) Kegagalan dalam perkembangan payudara secara fisiologis untuk menampunga air susu sangat jarang terjadi. Payudara secara fisiologis merupakan tenunan aktif yang tersusun seperti pohon tumbuh di dalam putting dengan cabang yang menjadi ranting semakin mengecil. Susu diproduksi pada akhir ranting dan mengalir kedalam cabang-cabang besar menuju saluran ke dalam putting. Secara visual payudara dapat di gambarkan sebagai setangkai buah anggur, mewakili tenunan kelenjar yang mengsekresi dimana setiap selnya mampu memproduksi susu, bila sel-sel Myoepithelial di dalam dinding alveoli berkontraksi, anggur tersebut terpencet dan mengeluarkan susu ke dalam ranting yang mengalir ke cabang-cabang lebih besar, yang secara perlahan-lahan bertemu di dalam aerola dan membentuk sinus lactiterous. Pusat dari areda (bagan yang berpigmen) adalah putingnya, yang tidak kaku letaknya dan dengan mudah dihisap (masuk kedalam) mulut bayi. Berdasarkan waktu diproduksi,ASI dapat dibagi menjadi 3 yaitu: A. Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah melahirkan anak. - Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat, dari masa laktasi. - Komposisi colostrum dari hari ke hari berubah. - Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature. - Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya. - Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi. - Lebih banyak mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama. - Lebih rendah kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature. - Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml colostrum. - Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah. - Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak. - PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature. - Lemaknya lebih banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature. - Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi menjadi krang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi pada bayi. - Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam. B. Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi) - Merupakan ASI peralihan dari colostrum menjadi ASI Mature. - Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada minggu ke 3 – ke 5. - Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar lemak dan karbohidrat semakin tinggi. - Volume semakin meningkat.
C. Air Susu Mature - ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan. - Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada yang mengatakan pada ibu yangs ehat ASI merupakan makanan satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertamabagi bayi. - ASI merupakan makanan yang mudah di dapat, selalu tersedia, siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan temperatur yang sesuai untu bayi. - Merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat, riboflaum dan karotin. - Tidak menggumpal bila dipanaskan. - Volume: 300 – 850 ml/24 jam - Terdapat anti microbaterial factor, yaitu: • Antibodi terhadap bakteri dan virus. • Cell (phagocyle, granulocyle, macrophag, lymhocycle type T) • Enzim (lysozime, lactoperoxidese) • Protein (lactoferrin, B12 Ginding Protein) • Faktor resisten terhadap staphylococcus. • Complecement ( C3 dan C4) 2.4 Volume Produksi ASI
Pada minggu bulan terakhir kehamilan, kelenjar-kelenjar pembuat ASI mulai menghasilkan ASI. Apabila tidak ada kelainan, pada hari pertama sejak bayi lahir akan dapat menghasilkan 50-100 ml sehari dari jumlah ini akan terus bertambah sehingga mencapai sekitar 400-450 ml pada waktu bayi mencapai usia minggu kedua.(9) Jumlah tersebut dapat dicapai dengan menysusui bayinya selama 4 – 6 bulan pertama. Karena itu selama kurun waktu tersebut ASI mampu memenuhi lkebutuhan gizinya. Setelah 6 bulan volume pengeluaran air susu menjadi menurun dan sejak saat itu kebutuhan gizi tidak lagi dapat dipenuhi oleh ASI saja dan harus mendapat makanan tambahan.(12) Dalam keadaan produksi ASI telah normal, volume susu terbanyak yang dapat diperoleh adalah 5 menit pertama. Penyedotan/penghisapan oleh bayi biasanya berlangsung selama 15-25 menit(12) Selama beberapa bulan berikutnya bayi yang sehat akan mengkonsumsi sekitar 700-800 ml ASI setiap hari. ( Akan tetapi penelitian yang dilakukan pada beberpa kelompok ibu dan bayi menunjukkan terdapatnya variasi dimana seseorang bayi dapat mengkonsumsi sampai 1 liter selama 24 jam, meskipun kedua anak tersebut tumbuh dengan kecepatan yang sama. Konsumsi ASI selama satu kali menysui atau jumlahnya selama sehari penuh sangat bervariasi. Ukuran payudara tidak ada hubungannya dengan volume air susu yang diproduksi, meskipun umumnya payudara yang berukuran sangat kecil, terutama yang ukurannya tidak berubah selama masa kehamilan hanya memproduksi sejumlah kecil ASI ( Pada ibu-ibu yang mengalami kekurangan gizi, jumlah air susunya dalam sehari sekitar 500-700 ml selama 6 bulan pertama, 400-600 ml dalam 6 bulan kedua, dan 300-500 ml dalamtahun kedua kehidupan bayi. Penyebabnya mungkin dapat ditelusuri pada masa kehamilan dimana jumlah pangan yang dikonsumsi ibu tidak memungkinkan untuk menyimpan cadangan lemak dalam tubuhnya, yang kelak akan digunakan sebagai salah satu komponen ASI dan sebagai sumber energi selama menyusui. Akan tetapi kadang-kadang terjadi bahwa peningkatan jumlah produksi konsumsi pangan ibu tidak selalu dapat meningkatkan produksi air susunya. Produksi ASI dari ibu yang kekurangan gizi seringkali menurun jumlahnya dan akhirnya berhenti, dengan akibat yang fatal bagi bayi yang masih sangat muda. Di daerah-daerah dimana ibu-ibu sangat ©kekurangan gizi seringkali ditemukan “merasmus” pada bayi-bayi berumur sampai enam bulan yang hanya diberi ASI.( 2.5 Komposisi ASI Kandungan colostrum berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum mengandung berbeda dengan air susu yang mature, karena colostrum dan hanya sekitar 1% dalam air susu mature, lebih banyak mengandung imunoglobin A (Iga), laktoterin dan sel-sel darah putih, terhadap, yang kesemuanya sangat penting untuk pertahanan tubuh bayi, terhadap serangan penyakit (Infeksi) lebih sedikit mengandung lemak dan laktosa, lebih banyak, mengandung vitamin dan lebih banyak mengandung mineral-mineral natrium (Na) dan seng (Zn). Berdasrkan sumber dari food and Nutrition Boart, National research Council Washington tahun 1980 diperoleh perkiraan komposisi Kolostrum ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml seperti tertera pada tabel berikut: (4) Tabel 1 Komposisi Kolostrum, ASI dan susu sapi untuk setiap 100 ml Zat-zat Gizi Kolostrum ASI Susu Sapi Energi (K Cal) Protein (g) - Kasein/whey - Kasein (mg) - Laktamil bumil (mg) - Laktoferin (mg) - Ig A (mg) Laktosa (g) Lemak (g) Vitamin - Vit A (mg) - Vit B1 (mg) - Vit B2 (mg) - Asam Nikotinmik (mg) - Vit B6 (mg) - Asam pantotenik - Biotin - Asam folat - Vit B12 - Vit C - Vit D (mg) - Vit Z - Vit K (mg) Mineral - Kalsium (mg) - Klorin (mg) - Tembaga (mg) - Zat besi (ferrum) (mg) - Magnesium (mg) - Fosfor (mg) - Potassium (mg) - Sodium (mg) - Sulfur (mg) 58 2,3 140 218 330 364 5,3 2,9 151 1,9 30 75 - 183 0,06 0,05 0,05 5,9 - 1,5 - 39 85 40 70 4 14 74 48 22 70 0,9 1 : 1,5 187 161 167 142 7,3 4,2 75 14 40 160 12-15 246 0,6 0,1 0,1 5 0,04 0,25 1,5 35 40 40 100 4 15 57 15 14 65 3,4 1 : 1,2 - - - - 4,8 3,9 41 43 145 82 64 340 2,8 ,13 0,6 1,1 0,02 0,07 6 130 108 14 70 12 120 145 58 30 ©Perbandingan komposisi kolostrum, ASI dan susu sapi dapat dilihat pada tabel 1. Dimana susu sapi mengandung sekitar tiga kali lebih banyak protein daripada ASI. Sebagian besar dari protein tersebut adalah kasein, dan sisanya berupa protein whey yang larut. Kandungan kasein yang tinggi akan membentuk gumpalan yang relatif keras dalam lambung bayi. Bila bayi diberi susu sapi, sedangkan ASI walaupun mengandung lebih sedikit total protein, namun bagian protein “whey”nya lebih banyak, sehingga akan membetuk gumpalan yang lunak dan lebih mudah dicerna serta diserapoleh usus bayi. Sekitar setengah dari energi yang terkandung dalam ASI berasal dari lemak, yang lebih mudah dicerna dan diserap oleh bayi dibandingkan dengan lemak susu sapi, sebab ASI mengandung lebih banyak enzim pemecah lemak (lipase). Kandungan total lemak sangat bervariasi dari satu ibu ke ibu lainnya, dari satu fase lakatasi air susu yang pertama kali keluar hanya mengandung sekitar 1 – 2% lemak dan terlihat encer. Air susu yang encer ini akan membantu memuaskan rasa haus bayi waktu mulai menyusui. Air susu berikutnya disebut “Hand milk”, mengandung sedikitnya tiga sampai empat kali lebih banyak lemak. Ini akan memberikan sebagian besar energi yang dibutuhkan oleh bayi, sehingga penting diperhatikan agar bayi, banyak memperoleh air susu ini ( Laktosa (gula susu) merupakan satu-satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu murni. Jumlahnya dalam ASI tak terlalu bervariasi dan erdapat lebih banyak dibandingkan dengan susu sapi. Disamping fungsinya sebagai sumber energi, juga didalam usus sebagian laktosa akan diubah menjadi asam laktat. Didalam usus asam laktat tersebut membantu mencegah pertumbuhan bakteri yang tidak diinginkan dan juga membantu penyerapan kalsium serta mineral-mineral lain. ASI mengandung lebih sedikit kalsium daripada susu sapi tetapi lebih mudah diserap, jumlah ini akan mencukupi kebutuhan untuk bahan-bahan pertama kehidupannya ASI juga mengandung lebih sedikit natrium, kalium, fosfor dan chlor dibandingkan dengan susu sapi, tetapi dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan bayi. Apabila makanan yang dikonsumsi ibu memadai, semua vitamin yang diperlukan bayi selama empat sampai enam bulan pertama kehidupannya dapat diperoleh dari ASI. Hanya sedikit terdapat vitamin D dalam lemak susu, tetapi penyakit polio jarang terjadi pada aanak yang diberi ASI, bila kulitnya sering terkena sinar matahari. Vitamin D yang terlarut dalam air telah ditemukan terdapat dalam susu, meskipun fungsi vitamin ini merupakan tambahan terhadap vitamin D yang terlarut lemak. (
2.6 Manajemen Laktasi
manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.(4) Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai berikut(4) a. Pada masa Kehamilan (antenatal) - Memberikan penernagan dan penyuluhan tentang manfaat dan keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu maupun bayinya, disamping bahaya pemberian susu botol. - Pemeriksaan kesehatan, kehamilan dan payudara/keadaan putting susu, apakah ada kelainan atau tidak. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil. - Perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup. - Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trisemester kedua sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil.
- Menciptakan suasana keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini perlu diperhatikan keluarga terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan dan membesarkan hatinya. b. Pada masa segera setelah persalinan (prenatal) - Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara menysui yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara melakatkan bayi pada payudara ibu. - Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu selama 24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal. - Ibu nifas diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000S1) dalam waktu dua minggu setelah melahirkan. c. Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal) - Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 4 bulan pertama usia bayi, yaitu hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya. - Perhatikan gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa dan minum minimal 8 gelas sehari. - Ibu menyusui harus cukup istirahat dan menjaga ketenangan pikiran dan menghindarkan kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat. - Pengertian dan dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang keberhasilan menyusui. - Rujuk ke Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan menysusui seperti payudara banyak disertai demam. - menghubungi kelompk pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu lain yang sukses menyusui bagi mereka. - Memperhatikan gizi/makanan anak, terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP ASDI yang cukup baik kuantitas maupun kualitas. 2.7 Makanan Bayi Berusia 0-4 bulan Ibu-ibu seharusnya bersyukur bila payudaranya, ternyata dapat memproduksi air susu yang berlimpah, karena anugrah tuhan ini tidak dimiliki oleh semua ibu. Meskipun demikian, diperkirakan 80% dari jumlah ibu yang melahirkan ternyata mampu menghasilkan air susu dalm jumlah yang cukup untuk keperluan bayinya, secara penuh tanpa makanan tamabahan selama enam bulan pertama. Bahkan ibu yang gizinya kurang baikpun sering dapat menghasilkan ASI cukup tanpa makanan tambahan selama 3 bulan pertama (Warno FG, 1990 hal.175). Dalam usia 0-4 bulan bayisepenuhnya mendapat makanan berupa ASI dan tidak perlu di beri makanan lain, kecuali jka ada tanda-tanda produksi ASI tidak mencukupi. Keadaan gizi anak pada waktu lahir sangat dipengaruhi oleh keadaan gizi semasa hamil. Ibu yang semasa hamilnya menderita gangguan gizi selain akan melahirkan anak yang gizinya tidak baik, juga kemungkinan dapat melahirkan anak dengan berbagai kelainan dalam pertumbuhannya, atau mungkin anak akan lahir mati. Sejak terjadinya pembuahan terhadap sel telur dalam rahim ibu. Hanya makanan yang memenuhi syarat gizi bagi anak dan bagi ibunya yang dapat membantu syarat gizi bagi wanita hamil dan pengaturan makanan anak yang sesuai merupakan masalah pokok yang perlu dihayati oleh para ibu.(9) Menyusui adalah cara makan aanak-anak yang tradisional dan ideal, yang biasanya sanggup memenuhi kebutuhan gizi seseorang bayi untuk masa hidup empat sampai enam bulan pertama. Bahkan setelah diperkenankan bahan makanan tambahan yang utama, ASI masih tetap merupakan sumber utama yang bisa mencukupi gizi. Dalam tahap usia sejak lahir sampai 4 bulan, ASI merupakan makanan yang paling utama. Pemberian ASI masa ini memberikan beberpa keuntungan. Betapapu tingginya dan baiknya mutu ASI sebagai makanan bayi, manfaatnya bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sangat ditentukan oleh jumlah ASI yang dapat diberikan oleh ibu. Kebaikan dan mutu ASI yang dapat dihasilkan oleh ibu tidak sesuai dengan kebutuhan bayi, dan akibatnya bayi akan menderita gangguan gizi. ASI sebagai makanan tunggal harus diberikan sampai bayi berumur 4 bulan. Hal ini sesuai dengan kebijaksanaan PP-ASI yaitu ASI diberikan selama 2 tahun dan baru pada usia 4 bulan bayi mulai di beri makanan pendamping ASI, paling lambat usia 6 bulan karena ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi pada 4 bulan pertama.
Adapun makanan bayi umur 0-4 bulan adalah sebagai berikut(2)- Susui bayi segera 30 menit setelah lahir. Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI. Pada periode ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, karena ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui sangat baik untuk bayi dan ibu. Dengan menysusui akan terjalin hubungan kasih sayang antara ibu dan anak. - Berikan Kolostrum - Berikan ASI dari kedua payudara, kiri dan kanan secara bergantian, tiap kali sampai payudara terasa kosong. Payudara yang dihisap sampai kosong merangsang produksi ASI yang cukup. - Berikan ASI setiap kali meminta/menangis tanpa jadwal. - Berikan ASI 0-10 kali setiap hari, termasuk pada malam hari. Pola pemberian ASI/makanan pendamping (MP-ASI) yang dianjurkan DEPKES seperti terlihat pada tabel berikut: Tabel 2 Pola Pemebeian ASI/MP-ASO menurut golongan umur Golongan Umur (Bulan) Pola Pemberian ASI/ MP-ASI ASI MP - ASI Makanan Lumat Makanan Lembik Makanan Keluarga 6 – 4 4 – 6 6 – 12 12 - 24 2.8. Faktor-faktor yang memperoleh Produksi ASI Adapun hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI antara lain adalah: a. Makanan Ibu Makanan yang dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan. Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus menerus tidak mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI. Unsur gizi dalam 1 liter ASI setara dengan unsur gizi yang terdapat dalam 2 piring nasi ditambah 1 butir telur. Jadi diperlukan kalori yang setara dengan jumlah kalori yang diberikan 1 piring nasi untuk membuat 1 liter ASI. Agar Ibu menghasilkan 1 liter ASI diperlukan makanan tamabahan disamping untuk keperluan dirinya sendiri, yaitu setara dengan 3 piring nasi dan 1 butir telur. Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tamabahan makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih jika ©2004 Digitized by USU digital library 9pada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak diperlukan. Dan walaupun tidak jelas pengaruh jumlah air minum dalam jumlah yang cukup. Dianjurkan disamping bahan makanan sumber protein seperti ikan, telur dan kacang-kacangan, bahan makanan sumber vitamin juga diperlukan untuk menjamin kadar berbagai vitamin dalam ASI. b. Ketentraman Jiwa dan Pikiran Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya, reflek tersebut adalah: - Reflek Prolaktin Reflek ini secara hormonal untuk memproduksi ASI. Waktu bayi menghisap payudara ibu, terjadi rangsangan neorohormonal pada putting susu dan aerola ibu. Rangsangan ini diteruskan ke hypophyse melalui nervus vagus, terus kelobus anterior. Dari lobus ini akan mengeluarkan hormon prolaktin, masuk ke peredaran darah dan sampai pada kelenjar –kelenjar pembuat ASI. Kelenjar ini akan terangsang untuk menghasilkan ASI. - Let-down Refleks (Refleks Milk Ejection)
Refleks ini membuat memancarkan ASI keluar. Bila bayi didekatkan pada payudara ibu, maka bayi akan memutar kepalanya kearah payudara ibu. Refleks memutarnya kepala bayi ke payudara ibu disebut :”rooting reflex (reflex menoleh). Bayi secara otomatis menghisap putting susu ibu dengan bantuan lidahnya. Let-down reflex mudah sekali terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi, tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Bayi tidak cukup mendapat ASI dan akan menangis. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih gelisah dan semakin mengganggu let down reflex. c. Pengaruh persalinan dan klinik bersalin Banyak ahli mengemukakan adanya pengaruh yang kurang baik terhadap kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya agar persalinan dapat berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam keadaan selamat dan sehat. Masalah pemebrian ASI kurang mendapat perhatian. Sering makanan pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal ini memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin buruk apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau poster yang memuji penggunaan susu buatan. d. Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen dan progesteron. Bagi ibu yang dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar hormon oxitoksin, yaitu hormon yang dapat merangsang produksi ASI. ©2004 Digitized by USU digital library 10e. Perawatan Payudara Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu dengan mengurut payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat dihindarkan sehingga pada waktunya ASI akan keluar dengan lancar. BAB III PEMBAHASAN ASI merupakan malanan alamiah yang pertama dan utama bagi bayi baru lahir. ASI dapat memenuhi kebutuhan bayi akan energi dan gizi selama 4-6 bulan pertama kehidupannya, sehingga dapat mencapai tumbuh kembang yang optimal. Selain sebagai sumber energi dan zat gizi, pemberian ASI juga merupakan media untuk menjalin hubungan psikologis antara ibu dan bayinya. Hubungan ini akan menghantarkan kasih sayang dan perlindungan ibu kepada bayinya serta memikat kemesraan bayi terhadap ibunya, sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan erat. Namun sering ibu-ibu tidak berhasil menyusui bayinya atau menghentikan menyusui lebih dini. Untuk itu dalam Bab pembahasan ini akan dibahas “Mengapa ASI Ekslusif tidak diberikan, dan kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi tidak diberikannya ASI Ekslusif.” Penelitian dan pengamatan yang dilakukan diberbagai daerah menunjukkan dengan jelas adanya kecenderungan meningkatkannya jumlah ibu yang tidak menyusui bayi ini dimulai di kota terutama pada kelomopk ibu dan keluarga yang berpenghasilan cukup, yang kemudian menjalar ke daerah pinggiran kota dan menyebar sampai ke desa-desa. Banyak hal yang menyebabkan ASI Ekslusif tidak diberikan khususnya bagi ibu-ibu di Indonesia, hal ini kemungkinan dipengaruhi oleh. a. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga. Hubungan kerabat yang luas di daera pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. Pengaruh orang tua seperti nenek, kakek, mertua dan orang terpandang dilingkungan keluarga secara berangsur menjadi berkurang, karena mereka itu umumnya tetap tinggal di desa sehingga pengalaman mereka dalam merawat makanan bayi tidak dapat diwariskan. b. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologipembuatan makanan bayi seperti pembuatan tepung makanan bayi, susu buatan bayi, mendorong ibu untuk mengganti ASI dengan makanan olahan lain. c. Iklan yang menyesatkan dari produksi makanan bayi menyebabkan ibu beranggapan bahwa makanan-makanan itu lebih baik dari ASI d. Para ibu sering keluar rumah baik karena bekerja maupun karena tugas-tugas sosial, maka susu sapi adalah satu-satunya jalan keluar dalam pemberian makanan bagi bayi yang ditinggalkan dirumah. e. Adanya anggapan bahwa memberikan susu botol kepada anak sebagai salah satu simbol bagi kehidupan tingkat sosial yan lebih tinggi, terdidik dan mengikuti perkembangan zaman. f. Ibu takut bentuk payudara rusak apabila menyusui dan kecantikannya akan hilang. g. Pengaruh melahirkan dirumah sakit atau klinik bersalin. Belum semua petugas paramedis diberi pesan dan diberi cukup informasi agar menganjurkan setiap ibu untuk menyusui bayi mereka, serta praktek yang keliru dengan memberikan susu botol kepada bayi yang baru lahir. Sering juga ibu tidak menyusui bayinya karena terpaksa, baik karena faktor intern dari ibu seperti terjadinya bendungan ASI yang mengakibatkan ibu ©merasa sakit sewaktu bayinya menyusu, luka-luka pada putting susu yang sering menyebabkan rasa nyeri, kelainan pada putting susu dan adanya penyakit tertentu seperti tuberkolose, malaria yang merupakan alasan untuk tidak menganjurkan ibu menyusui bayinya, demikian juga ibu yang gizinya tidak baik akan menghasilkan ASI dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan ibu yang sehat dan gizinya baik. Disamping itu juga karena faktor dari pihak bayi seperti bayi lahir sebelum waktunya (prematur) atau bayi lahir dengan berat badan yang sangat rendah yang mungkin masih telalu lemah abaila mengisap ASI dari payudara ibunya, serta bayi yang dalam keaaddaan sakit. Memburuknya gizi anak dapat juga terjadi akibat ketidaktahuan ibu mengenai cara – cara pemberian ASI kepada anaknya. Berbagai aspek kehidupan kota telah membawa pengaruh terhadap banyak para ibu untuk tidak menyusui bayinya, padahal makanan penganti yang bergizi tinggi jauh dari jangkauan mereka. Kurangnya pengertian dan pengertahuuan ibu tentang manfaat ASI dan menyusui menyebabkan ibu – ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu botol (susu formula).Kesehatan/status gizi bayi/anak serta kelangsungan hidupnya akan lebih baik pada ibu- ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini karena seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas serta kemampuan untuk menerima informasi lebih tinggi. Pada penelitian di Pakisttan dimana tingkat kematian anak pada ibu –ibu yang lama pendidikannya 5 tahun adalah 50 % lebih rendah daripada ibu – ibu yang buta huruf. Demikian juga di Indonesiabahwa pemberian makanan padat yang terlalu dini.Sebahagian besar dilakukan oleh ibu- ibu yang berpendidikan rendah , agaknya faktor ketidaktauanlah yang menyebabkannya. Faktor lain yang berpengaruh terhadap pemberian ASI adalah sikap ibu terhadap lingkungan sosialnya dan kebudayaan dimana dia dididik. Apabila pemikiran tentang menyusui dianggap tidak sopan dan memerlukan , maka “let down reflex” (reflex keluar) akan terhambat. Sama halnya suatu kebudayaan tidak mencela penyusunan, maka pengisapan akan tidak terbatas dan “du demand” (permintaan) akan menolong pengeluaran ASI. Selain itu kemampuan ibu yang seusianya lebih tua juga amat rendah produksi ASInya, sehingga bayi cendrung mengalami malnutrisi. Alasan lain ibu – ibu tidak menyusui bayinya adalah karena ibu tersebut secara tidak sadar berpendapat bahwa menyusui hanya ibu merupakan beban bagi kebebasan pribadinya atau hanya memperburuk potongan dan ukuran tubuhnya. Kendala lain yang dihadapi dalam upaya peningkatan penggunaan ASI adalah sikap sementara petugas kesehatan dari berbagai tingkat yang tidak bergairah mengikuti perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan. Konsep baru tentang pemberian ASI dan mengenai hal – hal yang berhubungan dengan ibu hamil, ibu bersaliin, ibu menyusui dan bayi baaru lahir. Disamping itu juga sikap sementara penaggung jawab ruang bersaliiin dan perawatan dirumah sakit, rumah bersalinn yang berlangsung memberikan susu botol pada bayi baru lahir ataupun tidak mau mengusahakan agar iibu mampu memberikan ASI kepada bayinya, serta belum diterapkannya pelayanan rawaat disebahagian besar rumah sakit /klinik bersalin. Semua faktor– faktor terebut diatas yang dianggap sebagai penyebab semakin melorotnya kegiatan meminumkan air susu ibu ke kalangan para ibu – ibu saat ini. Oleh sebab itu upaya yang dapat dilakukan antara lain : - Motivasi untuk menyusui. Di daerah pedesaan menyusui anak terlihat sebagai suatu proses yang normal, dan tidak dilakukan sembunyi-sembunyi. Ibu-ibu tidak malu menyusui bayinya. Kebiasaan itu adpat diciptakan suatu kondisi dan gairah bagi para gadis yang melihatnya, sehingga ada kemauan naluriah melakukan hal yang sama. Bila tumbuh menjadi besar dan punya anak meeka ingin melakukan hal yang serupa. Sebaliknya, kebiasaan ibu-ibu di kota yang malu-nalu serta sembunyi-sembunyi menyusui bayinya, tentu akan banyak mempengaruhi tabiat gadis-gadis ©2004 disekitarnya untuk berbuat sama, dan menyusui anak merupakan sesuatu hal yang harus dihindarkan. Ibu-ibu harus dibangkitkan kemauan dan kesediannya untuk menyusui anaknya, terutama sebelum melahirkan. Dan bila menyusui, hendaknya ditingkatkan pada masyarakat, pengertian tersebut harus ditanamkan pada anak-anak gadis sejak masih usia muda, bahwa menyusui anak merupakan bagian dari tugas biologis seorang ibu. Didaerah perkotaan, sasaran yang harus diberi pendidikan adalah para gadis remaja. Didaerah pedesaan, pendidikan harus diarahkan untuk tujuan mencegah marasmus. Perkembangan teknologi yang telah dapat menciptakan “humanized milk” menyebabkan nilai ASI dan kebiasaan menyusui yang pada hakekatnya memberikan fasilitas kemudahan pengadaan susu, murah serta praktis semakin kurang diminati dan dihindari. Kemajuan dibidang kesehatan lingkungan dan industri makanan sapihan membuat segalanya menjadi sangat praktis sehingga para ibu lebih cenderung menggunakan susu botol. Untuk mengatasi masalah tersebut, ibu-ibu yang mampu harus dihimbau dan diberi motivasi agar kembali pada praktek menyusui anak sendiri. Karena hal itu mendatangkan keuntungan bagi hubungan ibu dan anak dan terutama karena hal itu memenuhi ciri dan kodrat manusia.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. KESIMPULAN
- Air Susu Ibu merupakan makanan yang terbaik bagi bayi yang harus diberikan pada bayi sampai bayi berusia 4 bulan tanpa makanan pendamping. - Adanya kecenderungan semakin tinggi tingkat pendidikan semakin besar persentase ASI secara Eksklusif. - Masih rendahnya tingkat pengetahuan ibu-ibu tentang pemberian ASI.
4.2. SARAN
- Perlu peningkatan penyuluhan kesehatan secara umum khususnya tentang ASI dan menyusui kepada masyarakat, khususnya kepada ibu hamil tentang gizi dan perawatan payudara selama masa kehamilan, sehingga produksi ASI cukup. - Perlu ditingkatkan peranan tenaga kesehatan baik di rumah sakit, klinik bersalin, Posyandu di dalam memberikan penyuluhan atau petunjuk kepada ibuhami, ibu baru melahirkan dan ibu menyusui tentang ASI dan menyusui.
DAFTAR PUSTAKA
1. Djaeni Ahmad Soediaotama, (terjemahan); Faktor Gizi., Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1985 2. Depkes RI. Pedoman Pemberian MP-ASI, Jakarta. 1992 3. Djaeni Ahmad Sedjaoetama, Ilmu Gizi II, Dian Rakyat, Jakarta 1995 4. Depkes RI, manajemen Laktasi. Jakarta. 1994 5. Depkes RI, Panduan 13 Pesan dasar Gizi Bayi, dan Balita, Bhratara, Jakarta 1992 6. Depkes RI, Petunjujk Pelaksanaan Peningkatan ASI Ekslusif. Jakarta. 1997 7. Moehji Sjahmien. Pemeliharaan Gizi Bayi dan Balita. Bharatara. 1992 8. Mochtadi Deday, Gizi untuk Bayi. Sinar Harapan. Jakarta. 1994 9. Moehji Sjahmien, Ilmu Gizi, Bhratara, Jakarta. 1992 10. Puspita Theresia, Bahan Kuliah Gizi Dalam Daur Kehidupan. Akzi. Banda Aceh. 1995
oy antoni putrastikes fort de cock bukittinggipns dinas kesehatan kabupaten agambared18@yahoo.co.id